Misteri Makam Djemilah Birnie Di Maesan Bondowoso

Peninggalan sejarah berupa makam Djemilah Birnie (Baca: Jamilah Birni) seharusnya mendapat perhatian dari pemerintah Bondowoso. Makam merupakan salah satu saksi bisu bahwa di wilayah tersebut dulunya pernah disinggahi seseorang.

Jika pemerintah daerah peduli, pastinya alur sejarah terbentuk kabupaten tidak hilang begitu saja oleh perkembangan zaman.

Makam Djemilah jauh dari rumah penduduk sehingga jarang sekali orang membersihkannya padahal makam bersebelahan dengan persawahan warga dan tidak jauh dari jalan raya Bondowoso Jember sekitar 20 meter timur jalan.

Namun, banyak makam tokoh lainnya yang lokasinya jauh dari penduduk, jauh dari jalan raya mendapat perhatian khusus, mengapa makam Djamilah tidak? benarkah makamnya Angker? siapa sebenarnya Djemilah?

Biografi Djemileh Birnie

Dibalik usaha Birnie yang sukses, ada seorang perempuan yang mendukungnya. Perempuan ini bukan berasal dari negaranya, melainkan masih keturunan darah pribumi, yakni Djemilah Birnie.

Djemilah Birnie istri dari George Birnie orang Belanda keturunan Skotlandia ini merupakan penggagas perkebunan Jember Bondowoso yang sampai saat ini menjadi mata pencaharian masyarakat.

Perempuan pribumi yang lahir pada tanggal 18 Juni 1845, tepatnya 100 tahun sebelum Indonesia merdeka merupakan sosok dibaliknya kesuksesan perkebunan di masanya hingga sekarang.

George Birnie menikahi Djemilah, perempuan yang berasal dari etnis Madura. Birnie sangat mencintai istrinya sehingga ketika istrinya meninggal dibuatlah kuburan besar ala eropa namun masih bernuansa islami.

Kabarnya sejarah penamaan kabupaten Jember diambil dari kata “Djembir” kependekan dari Djemilah dan Birnie.

Sejarah tersebut tidak ada data tertulis yag dapat dipertanggungjawabkan karena ada sejarah lain yang memberikan data penamaan diambil dari kata :

“Jember” yang artinya tanah becek.

“Jembar” yang artinya tanah luas.

Informasinya kota Jember telah ada sebelum kolonial Belanda datang ditahun 1305 pada masa kerajaan Majapahit, namun informasi tersebut dibantah oleh dokumen milik Belanda pada Staatbland no. 322 tentang Besstuurshervorming Decentralisastie Regenscappen Oost Java.

Anak Keturunan Djemilah Birnie

Pernikahan Djemilah dan Birnie dikarunia anak yang bernama :

  1. Anna Helena Birnie lahir 23 Mei 1864 di Sempoe Sarie, Ned. Oost Indie
  2. Johan Birnie lahir 31 Oktober 1866 di east java
  3. Aleida Birnie Folkertsma lahir 5 april 1868 di Djember regency
  4. Wilhelmina Elisabeth Birnie lahir 4 Desember 1874 di Djembertridael
  5. George Birnie lahir 28 April 1879 di Groningen Netherland
  6. Birnie lahir 12 Oktober 1880 di Groningen
  7. Gerhard David Birnie lahir 9 Oktober 1884 di Jember

Makam Djemilah Birnie

Djemileh sendiri pernah tinggal di Belanda bersama suaminya dan anaknya, namun karena iklim eropa yang tidak cocok Djemileh kembali ke tanah air hingga akhir hayatnya.

Kemudian beberapa tahun setelah berada di tanah air, Djemileh meninggal dan dikebumikan di daerah Bondowoso tepatnya di wilayah Maesan depan SPBU atau sebelah selatan Polsek Maesan.

Hingga saat ini, bendebesah.com belum menemukan literatur (refrensi) penyebab kematian Djemileh.

George Birnie

George Birnie mendapat sebutan bapak Jember modern karena keberhasilannya membuka wilayah perkebunan tembakau di wilayah Jember pada tahun 1850 serta menanam tembakau diberbagai wilayah.

Birnie berhasil memasarkan hasil perkebunan ke benua eropa dan ia mendatangkan pekerja dari wilayah Jawa timur bagian barat khususnya pulau Madura.

Nama perusahaan Birnie adalah Lanbhouw Maaschappij Out Djember, pekerjanya rata-rata orang pribumi.

Di Jember, Birnie tak hanya menanam tembakau, ia mencoba meneliti tanaman kopi, kakao, dan karet. Keberhasilannya dalam meneliti, kini Jember sebagai pusat penelitian kopi dan kakao.

Birnie membuka lahan penanaman tembakau ke kawasan lereng gunung Argopuro Bondowoso. Tak hanya tembakau, kopi dan kakao budidayakan sepanjang lereng gunung.

Hingga saat ini, Kawasan Bondowoso masih membudidayakan tanaman tembakau dan kopi. Setiap tahunnya masyarakat Bondowoso menanam tembakau sebagai bahan dasar rokok.

Diwilayah timur, terdapat perkebunan kopi yang luas sehingga mampu mengekspor biji kopi ke negara lain setiap tahunnya. Kopi arabika menjadi andalan kota Bondowoso yang memilii rasa khas mint (mentol) yang jarang dimiliki daerah lain.

Demikian artikel perjalanan hidup Djemilah dengan Birnie, artikel ini hanya untuk menambah wawasan ilmu tentang sejarah di masa kolonial Belanda. Jika ada refrensi terbaru yang lebih kuat, mohon isi kolom komentar dan kirim ke kontak kami.

Share :

Tinggalkan komentar