Cerita Sejarah Bondowoso Sejak Tahun 1789

Sejarah Bondowoso – Ki Ronggo dan Kyai Togo Ambar Sari, 2 tokoh yang di ingat oleh warga Bondowoso bukan berarti tokoh pahalwan lainnya di lupakan. Namun Sejarah perjuangan Ki Ronggo dan Kyai Togo Ambar Sari belum banyak yang tahu.

Warga Bondowoso mengenal Ki Ronggo sebagai pembabat Bondowoso, sedangkan Kyai Togo sebagai tokoh agama mengajak warga pada saat itu untuk mengenal Islam dan taat beribadah. Setiap acara tak luput mendoakan para pahlawan dan leluhur kita.

Kabupaten Bondowoso merupakan kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Dari cerita Sejarah ini, dahulu kawasan hutan belantara karena Kab. Bondowoso tidak berpenghuni dan memiliki dataran tinggi.

 

Yuk kita pelajari asal usul Bondowoso dan siapa yang babat pertama kali hutan Bondowoso.

 

Sejarah Bondowoso

Dari asal usul Bondowoso itulah kita tahu siapa pertama kali yang membabat hutan belantara. Tidak banyak yang tahu asal usul Bondowoso, maka dari itu kita harus mengetahui sejarah kabupaten Bondowoso, asal usul Bondowoso, sejarah rumah adat Bondowoso, sejarah gerbong maut Bondowoso, sejarah kironggo, sejarah alun-alun Bondowoso, makam kironggo, bupati pertama Bondowoso dan siapa yang menjadi pelopor terbentuknya Bondowoso (Pahlawan Bondowoso).

Kabupaten Bondowoso berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Kabupaten Banyuwangi di timur, Kabupaten Jember di selatan, serta Kabupaten Probolinggo di barat. Ibukota kabupaten Bondowoso berada di persimpangan jalur dari Besuki dan Situbondo menuju Jember.

Bondowoso di kelilingi pegunungan yang penuh hutan maka dari itu orang mengenal Bondowoso sebagai kota hantu karena hantu Bondowoso terbilang sangat seram dan banyak.

 

Pahlawan Bondowoso

Togo Ambar Sari kebanyakan orang mengenal julukan Kyai yang satu ini bernama Sariman. Memang nama Togo Ambar Sari tidak tercatat dalam sejarah intelektual pesantren, ketenaran Togo Ambar Sari tidak sebesar K.H. Hasyim Asy’ari dalam perjuangan dan mempertahankan republik ini, atau tidak sekuat Sheikh Nawawi al-Bantani yang di akui kemampuan sainsnya ke seluruh dunia.

Namun, Kyai Togo adalah anak bangsa yang digugu dan ditiru menjadi panutan bagi generasi penerus.

 

Sejarah Bondowoso
Foto Ki Togo by Netijen

Banyak versi asal dan makna nama orang yang memberi julukan Togo Ambar Sari dan apa arti julukannya, namun ada riwayat yang benar bahwa nama tersebut diberi oleh Kyai Hasan
Genggong saat ia sowan bersama dengan mertuanya.

Saat itu gurunya berkata “Molaen satia enyamain Togo Ambar Sari, ben tongguen Bendebesah
(kamu sekarang saya panggil Togo Ambar Sari, kamu adalah tempat pengaduan orang
Bondowoso) dan pastinya, dia adalah sosok karismatik yang penuh dengan kesederhanaan
yang menjadi “pengaduhan” wilayah Bondowoso, Jember, Banyuwangi,
Situbondo dan Probolinggo.

Sebenarnya, Drs. K.H. Hasan Basri, Lc, Rektor IAII Sukorejo mengakui sosok Kyai yang penuh

kesederhanaan. Al-kisah kesederhanaannya, saat dia mendapat kunjungan dari
Hadratus Syaikh KHR. As’ad Syamsul Arifin, dalam rangka peresmian madrasah dia
dilatih. 

Kyai juga hadir, termasuk Kyai Mino, Kyai Hosnan, dan lain-lain.
Ratusan mata pengunjung terpaku pada tokoh ‘ulama’ ini.

Awal pertemuan kyai ini berlangsung dengan megah, dan meriah dihiasi pernak-pernik.
Sebaliknya, sosok Kyai Togo tampil dengan kesederhanaan, berpakaian seperti
dalam kehidupan sehari-hari.

Sungguh luar biasa, meski hidup dikelilingi pesona dunia. Berkilau dengan senang hati, Dia tidak
memelototinya, tidak terganggu dengan kekayaannya. Tidak besar kepala dengan
keharuman namanya. Konon, di setiap tamu yang sowan, beliau sama sekali tidak
ingin memakai uang cabisan, bahkan diletakkan di sela anyaman bambu ke pagar
dinding rumah.

Kyai Togo Wafat

Tepat pada tanggal 27 April 1997, Semua sangat bersedih dan berduka, terutama kota Bondowoso, karena ‘Alam ad-Din (Ikon agama), Kyai Togo meninggal dunia pulang ke Rahmatullah.
Bergemuru masyarakat Bondowoso di saat mendengar kepergiannya. Ribuan orang
yang berdatangan secara bergiliran, datang untuk membacakan doa sampai ke
tempat makam.

Kyai Togo sebelum diganti nama Sariman adalah bernama Madra’i yang lahir di desa Hamlet Salak,
Desa Tangsil Wetan, Kabupaten Wonosari. Disebut dusun gerdu salak, konon
katanya desa itu dipenuhi dengan tanaman salak, terutama di daerah aliran
sungai. Di antara pohon ada pondok kecil (surau) yang biasanya dibuat istirhat
sejenak oleh penduduk setempat.

Adapun tentang tanggal lahirnya, tidak ada data yang valid tentang keabsahan tanggal lahirnya. Namun,
kelahirannya di ramalkan akhir abad ke-18 Masehi. Hal ini bisa di maklumi,
karena penduduk desa primitif tidak banyak memperhatikan dan mencatat tanggal
lahirnya.

Prediksi ini tidak berarti tanpa data. Salah satunya adalah mbah Cong (Mukhlis), orang tua K.H
Mudarris yang merupakan teman pondok saat berada di daerah paciran Mangaran
Situbondo. Mbah Mukhlis berusia 125 tahun di tahun 2008, saat kematiannya.
Sebelumnya mamang ahlul warisi diprediksi saat wafatnya, kyai Togo berusia 110
tahun. Mengacu pada pernyataan di atas, Kyai Togo lahir sekitar tahun
1885-1890.

Jalan lainn adalah mengitung jarak kelahiran anak beliau. Saat anak kedelapan lahir pada tahun
1955, sedangkan jika waktu jarak antara anak laki-laki dan anak laki-laki lainnya
adalah 4 tahun. Dengan demikian, masa kelahiran semua anaknya adalah 32 tahun. 

Jika di kalkulasi sehingga beliau menjalani rumah tangga sejak tahun 1923 dan
jika pada masa perkawinannya seorang pemuda berusia 25 tahun atau lebih karena
santri. Dengan demikian, beliau lahir antara tahun 1895-1905.

Namun, ramalan ini
membutuhkan penelitian yang lebih mendalam agar bisa siap untuk suatu tujuan
berdasarkan hasil tertulis dan hasil seseorang yang bersamanya.

Bondowoso dan Besuki sedikit memiliki budaya dan dialek yang sama dengan masyarakat Pamekasan, Madura, sedangkan masyarakat Panarukan Kabupaten Situbondo sebelah timur
memiliki kesamaan budaya dan dialek dengan masyarakat Sumenep.

Pemberontakan Tahun 1743

Pada tahun 1743 terjadi pemberontakan terhadap Lesapap melawan Pangeran Tjakraningrat karena dia adalah anak seorang selir. Pertarungan yang terjadi di desa Bulangan menewaskan
Adikoro IV.

Pada tahun 1750 pemberontakan tersebut bisa dipadamkan dengan kematian ke Lesap. Ada terjadi
pemulihan di angkatkannya ank dari Adikoro IV, yakni RTA Tjokroningrat. Tak
lama terjadi pergulatan kekuasaan dan pemerintah dialihkan ke putra
Tjokroningrat I Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh bersama R. Bilat
sebagai patihnya. 

Khawatir tentang keamanan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan
membawa cucunya lari dengan eksodus besar pengikut Adikoro IV ke Besuki. Assra
kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di tampung
serta di didik bela diri dan pengetahuan agama.

Pada masa pemerintahan Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo di Besuki berkembang pesat dengan berfungsinya Pelabuhan Besuki yang mampu menarik minat pedagang jauh. Dengan kepadatan
penduduk, perlu dikembangkan kawasan tersebut dengan membuka hutan, yaitu ke
arah tenggara.

Pembabat Hutan Bondowoso

Kiai Patih Alus mengusulkan Mas Astrotruno (Raden Bagus Assra), anak angkat Ronggo
Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas membuka hutan. Usulan tersebut
diterima oleh Kiai Ronggo-Besuki, dan Mas Astrotruno juga dapat mengambil alih
tugas tersebut. 

Kemudian Kiai Ronggo Suroadikusumo menikahi Mas Astotruno
dengan Roro Sadiyah, putri Bupati Probolinggo Joyolelono. Ayah mertua Mas
Astrotruno menyajikan kerbau “Jasmine” berkulit putih (tanduknya
melengkung ke bawah) untuk menjadi pendamping perjalanan dan pemandu mencari
daerah subur.

 

Perkembangan kawasan ini dimulai pada tahun 1789, disamping tujuan politik sekaligus upaya penyebaran agama Islam karena di wilayah yang menjadi target orang masih menyembah
berhala. Mas Astrotruno dibantu oleh Puspo Driyo, Jatirto, Wirotruno, dan Jati
Truno berangkat ke selatan, menerobos daerah pegunungan di sekitar
Arak-Arak-Jalan Nyi Melas. Rombongan itu berbelok ke timur menuju Dusun Wringin
melalui gerbang bernama “Lawang Sekateng”.

Nama desa yang di lalui Mas Astrotruno, Wringin, Kupang, Poler dan Madiro, yang menuju ke selatan adalah desa Kademangan dengan membangun pondok resor di barat daya Kademangan
(mungkin di Desa Nangkaan sekarang).

Selain itu juga berada di utara Glingseran, tamben dan Ledok Bidara. Di sebelah barat adalah
Selokambang (kotakulon), Selolembu, Sumbersuko. sisi timur adalah Tenggarang,
Pekalangan, Wonosari, Jurangjero, Tapen, Prajekan dan Wonoboyo.

Di sebelah selatan ada
Sentong, Bunder, Biting, Patrang, Baratan, Jember, Rambi, Puger, Sabrang,
Menampu, Kencong, Keting. Populasi saat itu adalah lima ratus orang, sementara
masing-masing desa dihuni, dua, tiga, empat orang. 

Kemudian kediaman
penguasa dibangun di sebelah selatan Sungai Blindung, sebelah barat Sungai
Kijing dan sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan) yang dikenal sebagai
“Distrik Lama” Blindung, ± 400 meter di utara alun-alun.

Ki Ronggo

Pada tahun 1789-1794
membuka jalan untuk mendirikan wilayah penguasa, Mas Astrotruno pada tahun 1808
diangkat menjadi predikat Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan titelnya
“Demang Blindung”. Pembangunan kota itu dirancang, kediaman para
penguasa menghadap ke selatan di utara alun-alun. 

 

Dimana alun-alun awalnya
untuk kerbau putih favorit Mas Astrotruno, karena rumput rumput pun tumbuh.
Seiring waktu ini berfungsi sebagai alun-alun kota. Di sebelah barat dibangun
sebuah masjid yang menghadap ke timur.

Mas Astrotruno mengadakan berbagai
tontonan, antara lain adu puyuh (gemak), sabung ayam, kerapan sapi, dan adu
sapi untuk menghibur pekerja. Tontonan adu ternak diadakan secara berkala dan
menjadi tontonan mayarakat di Jawa Timur sampai tahun 1998. Atas jasanya,
Astrotruno ditunjuk sebagai Nayaka dan Jaksa Negeri.

 

Dari ikatan Keluarga
Besar “Ki Ronggo Bondowoso” mendapat informasi di tahun 1809 Raden Bagus
Asrah atau mas Ngabehi Astrotruno sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding)
dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi kertonegoro. Beliau sebagai penemu (pendiri)
sekaligus penguasa pemerintah pertama (penguasa pertama) di Bondowoso. 

Kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama Blindung, dengan perkembangan kota
berganti nama menjadi Bondowoso, sebagai ganti kata wana wasa. Maknanya
kemudian berkorelasi dengan kata bondo, yang berarti modal, ketentuan, dan woso
yang berarti tenaga. Begitulah caranya: meresmikan negara (kota) semata-mata
karena ibu kota klerus akan menganggap tugas yang diberikan kepada Astrotruno
untuk membersihkan hutan dan membangun kota.

 

Meski Belanda sudah
bermarkas di Puger dan secara administratif formal memasukkan Bondowoso masuk
ke daerah kerkuasaannya, namun dalam penunjukan personil praja masih kuat pada
Ronggo Besuki, maka tidak ada yang berhak mengklaim kelahiran kota baru
Bondowoso selain Mas Ngabehi Kertonegoro. Hal ini dikuatkan dengan pemberian
izin kepadanya untuk terus berupaya membabat hutan sampai kematian Sri Bupati
di Besuki.

Bupati Pertama Bondowoso

Pada tahun 1819 Bupati
Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari
Kademangan ke daerah bebas Besuki dengan status Keranggan Bondowoso dan Ngabehi
Astrotruno menjadi penguasa daerah dengan judul Mas Ngabehi Kertonegoro, dan
dengan sebutan Ronggo I. 

Hal ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal
1234 H atau 17 Agustus 1819. Acara tersebut juga dibuat menjadi daerah resmi
Bondowoso sebagai otonom di bawah kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuatan
Kiai Ronggo Bondowoso mencakup wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung
antara 1829-1830.

 

Pada tahun 1830
Kiai Ronggo mengundurkan diri dan kekuasaannya ke putra terpilih (putra kedua)
bernama Djoko Sridin yang pada waktu itu menjabat Patih di Probolinggo. Posisi
baru ini antara tahun 1830-1858 dengan judul M. Ng Kertokusumo dengan judul
Ronggo II, yang berbasis di Blindungan sekarang atau jalan S. Yododiharjo
(jalan Ki Ronggo) yang dikenal masyarakat sebagai “kabupaten tua”.

Setelah mengundurkan diri, Ronggo I melanjutkan bidang dakwah agama Islam
dengan menetap di Kebundalem Tanggulkuripan (Tanggul, Jember), Ronggo I
meninggal pada tanggal 19 Rabi’ulawal 1271 H atau pada tanggal 11 Desember 1854
pada usia 110 tahun.

Jadi dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil
mengembangkan Kawasan Kota Bondowoso dan tepatnya pada 17 Agustus 1819 atau
Selasa kliwon, 25 Syawal 1234 H. Duke Besuki R. Aryo Prawirodiningrat sebagai
orang kuat yang mendapat kepercayaan dari Gubernur Hindia Belanda. 

Dalam rangka menstabilkan strategi politik membuat kawasan Bondowoso terpisah dari
Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan R. Bagus Assra atau Mas Ngabehi
Astrotruno menjadi penguasa daerah dan tokoh agama, dengan gelar M. NG .
Kertonegoro dan predikat Ronggo I, penyerahan Tombak Tunggul Wulung.

 

Tanpa kecuali desa Gerund Salak yang saat itu dipimpin oleh orang tempo dulu dengan nama sebutan bangsawan dari pulau garam. Bangsawan ini segera melahirkan sosok kiai se
karisidenan Besuki, kyai Togo.

 

Dia adalah al-Allama al-Arifbillah yang tidak di ragukan lagi kewaliannya lahir dari seorang abid
bernama Magidin yang berpasangan dengan Safinah yang dikatakan sebagai ahli
berpuasa, Kyai Magidin sendiri memiliki 4 putra. Pertama, Madra’i (Kyai Togo).
Kedua, Syafiuddin. Ketiga, Radiyah. Keempat, Suhdin. Secara umum di masyarakat
desa nama anak pertama sebagai nama bapaknya. Oleh karena itu, Magidin pada
waktu itu disebut bapak Madra’i.

Kyai Togo

Yang sudah di ceritakan di atas Kyai Togo lahir dari pasangan Kyai Magidin dan Nyai Safinah dari garis silsilah ayah Kyai leluhur Togo asal Kyai Togo yang berasal dari desa Tegal
Mojo yang konon sepupu di sana nenek moyang masyarakat di desa tersebut adalah
bujuk lidah dari pulau garam Madura. Salah satu putra Bujuk Lidah adalah Kyai
Sainyo. Sementara Kyai Sainyo sendiri adalah kakek almarhum Kyai Togo.

 

Sementara dari jalur
ibu, ibu Kyai Togo adalah Bujuk Reduh. Bujuk Reduh adalah kepala desa tangsel
basah pertama. Nama sebenarnya adalah H. Sueb. Konon, julukan itu disematkan
padanya karena pelantikan hujan deras.

Padahal, menurut beberapa sepupu
penduduk desa, setiap orang tak kalah senang dengan sesuatu, lalu hujan deras.
Menurut informasi yang diperoleh, Nyai Safinah adalah anak perempuan Sajiyah
dimana Sajiyah sendiri adalah anak pertama dari Bujuk Reduh.

 

Kyai yang terkenal
dengan zuhudannya memiliki delapan anak nikah dengan nyai Yahyana. Pertama,
Asmina (Almarhum). Sibayak kedua (Alm). Syafi’i ketiga (alm). Keempat, Toha (KH
Farisi). Kelima, Hasan (alm, KH Zubair). Keenam, abdul Halim. (alm). Ketujuh,
Muhammad (alm). Kedelapan, Drs.KH. Salwa Arifin.

 

Menurut Ahlul Bait dan
beberapa santri berusia 50an dan 60an, Kyai Togo Kecil dulu belajar ke H. Abdul
Gaffar, desa Kyai tangsel. Sebelum melalui petualangan ilmiahnya, kyai Togo
memiliki masa kanak-kanak kecil di daerahnya -Tangsel Wetan – saat kecil
bermain dengan teman-temannya.

Tidak ada data tertulis
tentang kebangkitan kembali tokoh Kyai Togo. Namun, banyak di akui banyak orang
disebut kutu buku sebelum akhirnya mengambil jalan zuhud-an.

 

Setelah bisa mengaji
Alquran, Beliau memperoleh kesempatan untuk mencari ilmu ke beberapa pesantren.
Menurut Drs. KH. Salwa Arifin, almarhum sudah berada di daerah Bangsal, Jember,
Jawa Timur dengan nama gurunya adalah KH. Ilyas walaupun menurut beliau
mondoknya cukup singkat.

 

Beliau juga telah menimba
ilmu yaitu di wilayah pacenan Kabupaten Sitaran Sitaran dalam bimbingan KH.
Sholeh, konon menurut pengurus pondok pecenan ketiga KH. Abdul latif, cucu KH.
Sholeh, kiai Togo nyantri di pecenan sebelum 1922. Ini berdasarkan tahun
berdirinya masjid yang berada tepat di sebelah gubuk. Sebelum masjid dibangun,
santri pacenan sholat jum’at di masjid yang berada di kecamatan sekitar 15 km
jaraknya.

Selanjutnya, menurutnya, kyai Togo termasuk generasi penerus yang
nyantri di pondok pecenan yang setiap Jumat masih menggelar sholat Jum’at di
masjid yang berada di Kabupaten Mangaran. Di pondok kyai togo sangat sangat membangun
ilmu haliyah (tata krama) sehingga membentuk dirinya sebagai pribadi yang
luhur.

Perjalanan Kyai Togo Menuntut Ilmu

Ada sebuah cerita
menarik saat menimba ilmu di pacenan, burung merpati milik gurunya tergantung
di atas bambu. Disuruhu kyai untuk naik bambu mengambil burung. Meski bambu
keropos, beliau langsung mengambil sangkar burung di bambu tanpa memperdulikan
bambu keropos karena ta’diman (hormat) kepada gurunya. Tanpa diduga bambu yang
memanjat tidak patah. Pada saat turun, maka bambu itu patah.

Juga almarhum telah
menimba ilmu pengetahuan ke wilayah Besuki. Hal ini menurut Mas Sofwan, cucu
pengasuh yang pernah membimbing almarhum. Santri masa lalu, Kyai Togo
menanamkan kemandiriannya sampai meleket di dalam dirinya, melakukan riyadhoh
tanpa henti dan lelah, belajar tanpa kenal waktu dan usia.

 

Merasa tidak puas dengan
ilmunya tersebut, beliau melanjutkan pengetahuan mengembara ke pesantren Zainul
Hasan, Genggong Probolinggo. Di pesantren ini, Kyai Togo belajar sekira 10
tahun. Di pesantren ini juga, cerita unik tentang diri Kyai Togo
dimulai, ini tidak terlepas dari riyadhoh-riyadhoh yang beliau lakukan.
Diantara riyadhohnya adalah puasa dan sedikit makan.

 

Ada cerita tak kalah
dengan cerita diatas pada saat beliau santri di Genggong, sejak awal nyantri
sampai satu minggu lagi, tiba-tiba dia jatuh pingsan seusai sholat Jum’at
karena tubuhnya lemas. Dari sini nampak jelas dia memurnikan jiwa dan raga
sebelum menerima ilmu dari gurunya. Inilah akhirnya dia membuat seorang ulama
‘kharismtik’ pada akhirnya. Namun, riyadhoh yang paling unik yang dilakukan
adalah menunggu dan membalikkan sandal kyai. Sehingga gurunya tidak repot saat
akan keluar. Hal ini selalu dilakukan sampai akhir beliau nyantri di sana.

 

Namun, sosok Kyai Togo
tidak berarti tidak pernah belajar saat nyantri di pondok Kyai Hasan Genggong.
Dikatakan bahwa beliau selalu belajar saat santri lainnya sedang tidur. Cara
beliau belajar sangat berbeda dengan cara belajar santri lainnya.

Beliau
belajar otodidak (otodidak) dan mengulangi apa yang telah didapat. Beliau belajar
di kamarnya (sekarang Kamar C 2) menggunakan bola lampu stongking, satu-satunya
cahaya di mushalla yang cahaya menembus sela penghalang anyaman bambu.

 

Dalam upaya untuk
meningkatkan pengetahuannya, Beliau selalu dalam bimbingan KH. Saifuddin,
menantunya Kyai Hasan Genggong. Meski tidak secara terbuka mengikuti pengajian
di mushalla di bawah bimbingan langsung Kyai Hasan.

Beliau selalu mendengarkan
pengajian diberikan gurunya dibelakang kamarnya. Hal ini, menurut perawi santri
senior di sana, Kyai Togo adalah malingnya sains. Hal ini dilakukan karena
begitu hanya untuk melayani. Beliau adalah salah satu dari banyak santri
yang menggantikan posisi Kyai Hasan dalam memberikan sebuah studi kepada santri
di mushallah saat Kyai Hasan tidak dapat mengajar di mushalla.

 

Saat disandingkan dengan
Kyai-Kyai telah sekaliber KH. Hasyim Asy’ari, KH. Badruzzaman (1990 – 1972),
KH. Bisri Mustofa (1915 -1977) dan lainnya, Kyai Togo tergolong tidak menonjol
di bidang penulisan.

Hal Ini terbukti sedikit sebuah buku yang ditulis nya,
bisa di katakan tidak ada hasil melalui sentuhan penanya. Sejauh ditemukan,
satu-satunya karya yang dihasilkan oleh Kyai Togo adalah manuskrip yang
mengandung zikir. Buku ini bukan asli melainkan salinan dari gurunya.

 

Namun, bukan berarti dia
tidak memiliki pikiran sendiri. Dengan kata lain, tipologi pemikirannya bisa
dilihat dari perilakunya selama hidupnya, baik dari kata-katanya maupun
tindakannya. Tidak masuk akal, bila tindakan orang saleh tidak didasarkan pada
keilmuannya. Misalnya, mengerjakan shalat Idul Fitri saat fajar.

Agak
mengejutkan kalangan intelektual pesantren saat ada pembicaraan semacam itu.
Tapi, bukan berarti itu terlepas dari kerangka spiritual intelektualnya. Para
intelektual spiritual ini akan dibahas di bagian ketiga buku ini.

 

Sementara itu, gaya
berpikir Kyai Togo yang bisa ditangkap dari manuskrip yang ada diatas, yang
terlihat jelas adalah mutasawwif yang begitu dalam. Dalam manuskrip ini
tersirat bahwa pantulannya sufistik. Pertama, ilmu penganggaran. Itulah ilmu
yang membahas tuntunan dan visi hati. Kedua, ilmu ketulusan.

Ketiga ilmu ini
memiliki hubungan yang erat dan tidak bisa dipisahkan. Menurut penuturan
murid-muridnya, perbuatan yang didasarkan pada ketulusan tanpa keyakinan, maka
perbuatan itu tidak ada artinya. Begitu juga keyakinan tanpa ketulusan bukan
perbuatan tak ternilai.

Selanjutnya menurut Kyai
Togo diterjemahkan oleh KH. Mudarris, semua shalat bisa diterima bila
berdasarkan hati yang bersih, tulus dan percaya diri.
 

Mengenai manusia biasa
pada umumnya, Kyai Togo adalah manusia biasa dengan segala sifat manusia yang
ada di dalam dirinya. Dia makan, minum, menikah, bekerja dan sebagainya. Dia juga merasakan apa
yang manusia pernah rasakan, mulai dari masa kanak-kanak sampai akhir hayatnya
seperti rasa sakit, sakit dan kesehatan, bahagia dan sedih, menyendiri dan
bersosialisasi.

Sosok Kyai Alumnus Genggong memulai hidupnya di masyarakat
dengan menjalani tabut kehidupan rumah tangga dengan menyunting putri Nyai
Yahyana dari Ahmad.

Dikatakan bahwa Nyai Yahyana masih keturunan bujuk reduh
dari jalan ibunya. Bujuk reduh memiliki empat putra. Putra pertama, Sajiyah.
Putra kedua, Trawih. Anak ketiga, Rufi. Anak ke empat, Sardiyan. Dari sardiyan
inilah orang tua Nyai Safinah dan kakek dari yahyana nyai dari jalur ibunda
nya.

 

Ada cerita menarik saat
Kyai Togo menikahi Nyai Yahyana. Saat itu Kyai menikahi Nyai Yahyana dengan mas
kawin menghatamkan Alquran. Setelah sampai 7 hari menghatamkan Al Quran Kyai
mengabarkan kepada mertua yang telah menghatamkan Alquran dalam waktu seminggu.
Ayah mertua, ayah Ahmad kurang begitu percaya kepadanya. 

Akhirnya, menyuruhnya
menghatamkan lagi. Sesampainya 3 hari
kemudian, al-Maghfullah, Kyai Togo menghadap mertua untuk menyatakan telah
hatam al-Qur’an. Mertua masih kurang percaya diri pada menantu masa depannya
sehingga dia bisa menghatamkan al-Qur’an dalam 3 hari.

 

Dikatakan lagi Kyai Togo
untuk menghatamkan Alquran lagi! Sehari kemudian, Kyai Togo menghadap ayah
mertuanya dengan niat yang sama seperti kemarin. Akhirnya, mengahadap mertua
untuk meyakinkan dirinya sebagai satu-satunya calon mertua pilihannya. lalu
berkehendak sowan Kyai Hasan Genggong.

 

Sesampainya di tempat
tujuan, Kyai Togo dan mertuanya diterima oleh Kyai. Di sela-sela, Kyai Togo
disuruh membersihkan dalem (baca: rumah seorang Kyai) dicuci dengan baik.
Setelah membersihkan ruangan, Kyai Hasan berkata “setia e toami ambar
sari, sudah tongguen bendebasa. (Kamu sekarang saya panggil Togo Ambar Sari,
kamu adalah tempat keluhan orang Bondowoso).

 

Dalam karyanya di tengah
masyarakat yang kaya tipologi pertanian, Kyai yang merupakan pengurus sekaligus
pendiri PP. Manbaul Ulum, sangat dekat dengan masyarakat, tanpa melihat latar
belakang, status sosial, etnisitas, ras, dan suku.

Keyakinan yang berbeda juga
memiliki kedekatan dengan mereka-mereka dalam hal hubungan antara lain.
Terbukti dengan jumlah tamu yang mengunjunginya dengan berbagi berbagai
kepentingan.

 

Ada beberapa faktor yang
menjadi motif kedekatan Kyai Togo dengan masyarakat sekitar, diantaranya
adalah, Pertama, faktor sains. Tak ayal, alumnus pesantren Genggong Probolinggo
ini memiliki segudang pengetahuan. Bisa dilihat dari cerita naratif naratif
bahwa sekitar tahun 50-an ada beberapa santri nyolok (madura, santri yang tidak
menetap) untuk mempelajari buku-buku klasik seperti bidayah, ta’lim
al-muta’allim dan lain-lain.

 

Dengan segudang
pengetahuan yang dimilikinya, ia menjadi rujukan masyarakat sekitar yang
notabenis nya agamais,. Terutama berhubungan langsung dengan aktivitas masyarakat

Kedua, faktor ketaqwaan.
Menurut KH. Farisi almarhum, Kyai Togo jarang keluar dari tempat tinggalnya.

Bahkan menghindar dari hal-hal yang kurang bermanfaat apalagi membicarakan
keburukan orang lain. Kebiasaan merenung, taffakkur. Tempat yang disukainya
adalah kursi kayu di ruang tamunya. Saat malam tiba, dia memasuki kamarnya.
Malam sekitar jam 2 di antar oleh Nawawi, seseorang yang selalu menuntunnya
untuk berwudhu ‘.

 

Ketiga, faktor
kekaromahan. Bukan rahasia di kalangan masyarakat Gerdu Salak tentang banjir
yang melanda di desa ini yang disebabkan oleh bendungan jebol. Dikatakan, di
musim hujan telah tiba. Ada banjir besar yang menjebol bendungan irigasi yang
membanjiri daerah pemukiman penduduk.

Saat itu, perasaan itu-menghantui
penduduk setempat. Sebelum banjir ke warga desa, Kyai Togo menancapkan tongkat.
Segera saja banjir tidak masuk ke wilayah desa. Cerita Rakyat ini, diturunkan dari
generasi ke generasi sekarang.

 

Di sub ini, akan
terungkap seklumit perjalanan Sufistik yang dialami Kyai Togo Ambar Sari,
pembahasan ini, edialnya butuh studi refrensi mendalam tentang ini. Setelah
menelusuri dengan beberapa sumber dan saksi hidup lalu mengkaji. bisa ditemukan
citra spiritual Kyai Togo Ambar Sari. Penulis mengajukan beberapa tahapan yang
dia lewati yang terdiri dari Syari’ah, Tarekat, Hakikat dan Marifat. Dari tahap
ini, dapat digambarkan sebagai berikut:

 

Pertama, Syari’ah,
dirumuskan oleh definisi As-Sayyid Abu Bakar al-Ma’ruf dengan mengatakan:
“Syari’ah adalah perintah yang telah diperintahkan oleh Allah, dan
larangan yang telah dilarang oleh-Nya.”

 
Kedua, tarekat. Istilah
Tariqa berasal dari kata Ath-Tariq (jalan) menuju Alam atau dengan kata lain
pengalaman syari’ah, yang disebut “Al-Jaraa” atau “Al-Amal”

Secara definitif, ada
tiga pengertian tentang hal ini. Pertama, Tariqa adalah praktik syari’ah,
melakukan ibadah (rajin) dan menjauhkan diri dari apa yang seharusnya tidak
dipermudah. Kedua, Tariqa adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan
sesuai dengan kemampuannya; baik larangan dan perintah nyata, maupun yang tidak
(batin).

Ketiga, Tariqa adalah menjaui yang haram dan makruh, dengan
mempertimbangkan mubah (yang berisi) fadhilat, memenuhi kewajiban dan orang
disunat, sesuai dengan kemampuan (eksekusi) di bawah bimbingan seorang syekh
dari (shufi ) yang bercita-cita untuk tujuan.

 

Ketiga, hakikat. Istilah
ini pada dasarnya berasal dari kata Al-Haqq, yang berarti kebenaran. Jika ada
ilmu Alam, itu berarti ilmu yang digunakan untuk mencari kebenaran. Pengalaman
batin yang sering dikenal oleh Shufi, menggambarkan kedekatan hakikat dan
ma’rifat, yang merupakan tujuan akhir tasawuf, sementara ma’rifat adalah tujuan
akhir.

 

Keempat, makrifat.
Istilah Ma’rifat berasal dari kata “Al-Ma’rifah” yang berarti
mengetahui atau mengetahui sesuatu. Dan tali dengan praktik tasawuf, maka
istilah ma’rifat disini berarti mengenal Tuhan saat Shufi sampai pada maqam
tasawuf.

 

Tidak semua orang yang
mencapai tasawuf bisa mencapai tingkat ma’rifat. Oleh karena itu, Shufi yang
telah ma’rifat, memiliki tanda-tanda tertentu, muncul deskripsi Dzuun Nuun
Al-Mishriy yang mengatakan; Ada beberapa tanda yang dimiliki oleh Shufi ketika
sampai pada tingkat ma’rifat, antara lain, pertama, selalu memancarkan cahaya
ma’rifat dalam segala sikap dan tingkah lakunya.

Karena itu, sikap wara ‘selalu
ada di dalam dirinya. Kedua, tidak ada keputusan mengenai sesuatu berdasarkan
fakta sebenarnya, karena hal-hal yang sebenarnya sesuai dengan ajaran tasawuf,
belum tentu benar. Ketiga, nikmat Tuhan yang tidak dikehendaki itu untuk
dirinya sendiri, karena hal itu dapat terjadi melawan tindakan melanggar hukum.

 

Pelatihan kejiwaan untuk
menuju kepada Tuhan tidak semudah ilmu lainnya, karena perjalanan ke Allah
memiliki berbagai tantangan dan rintangan dari jiwa, masyarakat dan syaitan,
cobaan yang datang dari raja Salik kepada Allah, dan Kyai Togo berhasil
memberhentikan.

semua rintangan dan rintangan yang mengganggunya untuk mengenal
Tuhan dan berjalan munujunya, zikir, istighfar, salawat merupakan bagian
penting dalam perjalanan yang penuh dengan duri dan duri.

 

Melihat sosok almarhum
dari sisi tasawufnya, akan lebih menarik bila akan diungkapkan usahanya akan
menjadi tujuan meraih Tuhan. Beliau bersama dengan para sufi lainnya mengalami
beberapa tahap dalam perjalanan Sufi-nya.

Kurangi menurut otorisasi penulis
tahap dibagi menjadi tiga. Pertama, tahap Takhalli. Takhalli berarti
membebaskan atau mengosongkan selain Tuhan oleh dunia yang tidak menarik, zuhud
dan uzlah.

 

Menurut anak keempat, KH.
Farisi, yang sejak nyantri di sukorejo, abahnya mengalami kehidupan yang
berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya, yaitu kurang memperhatikan
hal-hal yang biasa-biasa saja, berpakaian ala kadarnya,

 

Kedua, Tahalli. Tahalli
berarti menghiasi dirimu dengan beribadah kepada Allah. Dua dari kondisi ini
biasanya seseorang masih bisa menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran syariah.

 

Uraian tahalli al-marhum
dapat dilihat dari kesaksian hamba-hambanya, yaitu setiap 2 pagi, abdi dalem
mengantar kyai tua ke junde untuk wudhu ‘. Bisa disimpulkan bahwa aktivitasnya
– meski bernyanyi hamba dalem tidak melihat dengan baik aktivitas
selanjutnya-taqarrub tingkah laku (lebih dekat) kepada Allah SWT.

 

Ketiga, Tajalli. Tajalli
berarti berinkarnasi dalam pencipta. Menggunakan istilah Syaikh Siti Jenar,
Manunggaling Kaulo Gusti. Manusia adalah satu dengan Tuhannya, tidak ada jilbab
di antara keduanya. Saat manusia dipersatukan dengan-Nya, maka keberadaan
sekelilingnya hilang.

Cukup bagus rasanya
mempersatukan pelayan dengan tuhannya. Cerita-cerita berkembang di masyarakat
tentang kasih sayang wali yang diasosiasikan dengan persatuan dengan tuhannya.
Doa seperti itu keluar dari waktu, karena untuk orang yang hanya di tuhan saja,
maka tidak ada hal yang menjadi kendala

 
H. Kyai Togo dan Manbaul
Ulum

Memang benar Kyai yang
sederhana ini adalah anak desa. Dia tidak kuliah dan tidak tahu ilmu pendidikan
di pusat pendidikan terkenal. Namun perilaku dan tindakannya tercermin sebagai
orang yang peduli terhadap pendidikan. Madrasah Manbaul Ulum adalah bukti
kepeduliannya terhadap pendidikan.

 

Prasasti yang terbuat
dari marmer berukuran 45 cm X 30 cm bertuliskan tinta emas merupakan deretan
bisikan mengenai pembentukan madrasah dengan nama Manbaul Ulum. Madrasah ini
menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Manbaul Ulum yang tertunda pada
tahun 1992 sertifikat notaris.

Menariknya, pembangunan madrasah yang berukuran
60 m2 ini relatif lebih cepat dan tidak mahal. Jumlah masyarakat sekitar yang
membantu pembangunan kompleks madrasah dan bahkan beberapa orang yang
menyerahkan sebidang tanah untuk kepentingan pondok ini.

 

Madrasah diresmikan oleh
KHR. Asad Syamsul Arifin secara bertahap mengalami perubahan yang sangat cepat.
Anomi masyarakat terhadap madrasah juga sangat antutias. Tahun pertama (1989)
dibuka Madrasah Diniyah Sufla. Madrasah ini menempuh pendidikan selama 6 tahun.

Di pertengahan tahun ini, tepatnya di tahun 1993, ada santri yang sudah menetap
(mukim). Pada tahun 1995 di bidang pendidikan terbuka Madrasah Diniyah Wustha.
Pada tahun ini juga putra bungsu Kyai Togo, Drs KH. Salwa Arifin pulang dari
yantri di PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

 

Sampai tahun 1997,
ketika Kyai Togo menghadap ilahi, kepemimpinan pimpinan pindah ke anaknya, Drs.
KH. Salwa Arifin. Melalui sentuhannya, Pondok Pesantren Manbaul Ulum mengalami
perkembangan yang sangat pesat.

Ini dengan berdirinya lembaga pendidikan. Pada
tahun 1998, mendirikan Madrasah Diniyah Ulya. Hingga tahun 2003, Pondok Manbaul
Ulum membuka Madrasah Tsanawiyah. Pendidikan berafiliasi dengan kementerian
agama.

 

Pendidikan Madrasah
Tsanawiyah Manbaul Ulum adalah perpaduan antara agama dan masyarakat agar siap
santri untuk dapat menghadapi globalisasi. Pendidikan di Pondok Pesantren
Manbaul Ulum tidak hanya untuk aspek kognitif dan efektif saja.

Namun, juga
pada aspek psikomotor. Ini untuk melengkapi santri sehingga nantinya mempuyai
spesial. Oleh karena itu, pada tahun 2004, Pondok Manbaul Ulum membuka Sekolah
Menengah Kejuruan (SMK) dengan jurusan fashion.

 

Pendidikan ini
menyediakan bagi siswa untuk menjadi manusia siap pakai saat mereka pulang dan
tinggal di tengah – tengah masyarakat. Tidak cukup di sana untuk membentengi
harta karun Islam di pondok ini. PP. Manbaul Ulum membuka tingkat pendidikan
tinggi (baca: Ma’had Aly) dengan kosentrasi Hukum Islam.

Pendidikan ini
didirikan pada tahun 2006 dan kini telah memasuki generasi kedua (2009-2011).
Selain itu juga lembaga kursus, seperti baca kitab cepat (amsilati), bahasa
inggris, makeup dan lain-lain.

Begitulah sejarah singkat Kabupaten Bondowoso sekaligus sejarah Ki Ronggo Bondowoso. Dan banyak lagi cerita Bondowoso yang kami sajikan disini mulai Wisata Bondowoso, Budaya Bondowoso, Adat Bondowoso, Pendidikan Bondowoso, Makanan Khas Bondowoso, Berita Bondowoso, Kuliner Bondowoso, Pertanian Bondowoso, Pasar Bondowoso, Harga-harga di Bondowoso, Pemerintah Bondowoso, maka dari itu kita harus mengetahui sejarah, asal usul Bondowoso, sejarah rumah adat Bondowoso, sejarah gerbong maut Bondowoso dan siapa yang menjadi pelopor terbentuknya Bondowoso (Pahlawan Bondowoso).

Terima kasih telah mengunjungi website kami, jangan lupa share Peran Ki Ronggo dan Kyai Togo Ambar Sari Dalam Sejarah Kabupaten Bondowoso agar lebih bermanfaat.

Share :

Tinggalkan komentar