Magnitudo atau Skala Richter Mana Yang Tepat Ukur Kekuatan Gempa dan Apa Bedanya?

Magnitudo atau Skala Richter Yang Tepat Ukur Kekuatan Gempa Dan Apa Bedanya? - Ketika gempa bumi terjadi di suatu daerah, stasiun rekaman gempa akan menghasilkan informasi seismik dalam bentuk rekaman sinyal gelombang, setelah melalui proses manual dan otomatis, akan menjadi data pembacaan fase.

Magnitudo atau Skala Richter Mana Yang Tepat Ukur Kekuatan Gempa dan Apa Bedanya?
Foto Data Gelombang Gempa

Informasi seismik kemudian mengalami proses pengumpulan, pemrosesan, dan analisis sehingga menjadi parameter gempa. Parameter gempa meliputi: Waktu kejadian gempa, lokasi pusat gempa, kedalaman sumber gempa, kekuatan gempa, dan intensitas gempa.

Waktu kejadian gempa bumi (Origin Time) adalah waktu pelepasan akumulasi tegangan dalam bentuk perambatan gelombang gempa bumi dan dinyatakan dalam hari, tanggal, bulan, tahun, jam, menit, menit, detik di UTC (Universal Time Coordinated).

Episentrum adalah titik di permukaan bumi yang merupakan pantulan tegak lurus dari Hypocenter atau Fokus gempa. Lokasi pusat gempa dibuat dalam sistem koordinat Cartesian bola dunia atau sistem koordinat geografis dan dinyatakan dalam derajat lintang dan bujur.

Kedalaman sumber gempa adalah jarak hiposenter yang dihitung tegak lurus dengan permukaan bumi. Kedalaman dinyatakan dengan jumlah jarak dalam satuan KM.

Kekuatan gempa atau Magnitudo adalah ukuran kekuatan gempa, menggambarkan jumlah energi yang dilepaskan pada saat gempa bumi dan merupakan hasil pengamatan Seismograf. Magnitude menggunakan skala Richter (SR).

Intensitas gempa bumi adalah ukuran kerusakan gempa bumi berdasarkan pengamatan efek gempa bumi terhadap manusia, struktur bangunan dan lingkungan di tempat tertentu, yang dinyatakan dalam skala MMI (Modified Mercalli Intensity).

Berdasarkan kekuatan atau Magnitudo (M), gempa bumi dapat dibagi menjadi :

1. Gempa bumi sangat besar dengan kekuatan lebih dari 8 SR.
2. Magnitudo besarnya antara 7 hingga 8 SR.
3. Gempa bumi merusak Magnitudo antara 5 dan 6 SR.
4. Gempa bumi berkekuatan sedang antara 4 hingga 5 SR.
5. Gempa kecil dengan kekuatan antara 3 hingga 4 SR.
6. Gempa bumi berkekuatan mikro antara 1 hingga 3 SR.
7. Gempa bumi ultra-mikro dengan kekuatan kurang dari 1 SR.

Berdasarkan kedalaman sumber (h), gempa bumi diklasifikasikan sebagai:

1. Gempa bumi di: h> 300 Km.
2. Gempa sedang: 80 <h <300 Km.
3. Gempa dangkal: h <80 Km.

Berdasarkan jenis gempa dapat dibagi menjadi :

Type I : Pada tipe ini gempa bumi utama diikuti oleh gempa susulan tanpa didahului oleh gempa pendahuluan (fore shock).

Tipe II : Sebelum gempa utama terjadi, didahului oleh gempa pendahuluan dan kemudian diikuti oleh beberapa gempa susulan.

Tipe III : Tidak ada gempa bumi besar. Magnitudo dan jumlah gempa yang terjadi besar pada periode awal dan menurun pada periode akhir dan biasanya bisa bertahan cukup lama dan bisa mencapai 3 bulan. Jenis gempa ini disebut tipe kawanan dan biasanya terjadi di daerah vulkanik.

Magnitudo Gempa Bumi

Magnitudo adalah ukuran kekuatan gempa, menggambarkan jumlah energi yang dilepaskan pada saat gempa bumi dan merupakan hasil pengamatan Seismograf. Di Indonesia (BMKG) Magnitude menggunakan skala Richter (SR). Konsep "Magnitudo Gempa" sebagai skala kekuatan relatif yang dihasilkan dari pengukuran fase amplitudo pertama kali dikemukakan oleh K. Wadati dan C. Richter sekitar tahun 1930 (Lay. T dan Wallace. T.C, 1995).

Magnitudo gempa bumi diekspresikan oleh besarnya magnitudo pada skala logaritmik dasar sebesar 10. Nilai magnitudo diperoleh sebagai hasil analisis jenis gelombang seismik tertentu (dalam bentuk rekaman getaran tanah terbesar yang dicatat) dengan mempertimbangkan memperhitungkan koreksi jarak stasiun rekaman ke pusat gempa.

Saat ini ada empat jenis Magnitude yang biasa digunakan (Lay. T dan Wallace. T.C, 1995) yaitu: Magnitudo Lokal, Magnitudo Tubuh, Magnitudo Permukaan, dan Magnitudo Momen

Skala Lokal (ML) / Skala Richter

Magnitudo lokal (ML) pertama kali diperkenalkan oleh Richter pada awal 1930-an menggunakan data peristiwa gempa bumi di daerah California yang direkam oleh Woods-Anderson Seismograph. Menurutnya, dengan mengetahui jarak episentrum ke seismograf dan mengukur amplitudo maksimum dari sinyal yang dicatat pada seismograf, pendekatan dapat dilakukan untuk menentukan Magnitudo gempa. (USGS, 2002)

SR awalnya hanya dibuat untuk gempa bumi di daerah California Selatan. Selama pengembangannya, SR telah diadopsi secara luas untuk gempa bumi di daerah lain. SR sebenarnya hanya cocok untuk gempa yang dekat dengan magnitudo gempa di bawah 6.0. Di atas Magnitudo itu, perhitungan dengan teknik SR tidak lagi representatif.

Magnitude Body (Mb)

Terbatasnya penggunaan magnitudo lokal untuk jarak tertentu membuat pengembangan tipe magnitudo dapat digunakan secara luas. Salah satunya adalah mb atau magnitudo tubuh (Body-Wave Magnitude). Magnitudo ini ditentukan berdasarkan not amplitudo dari gelombang P yang bergerak melalui interior bumi (Lay. T dan Wallace.T.C. 1995).

Permukaan Magnitude (Ms)

Selain Magnitudo Body, Ms. Ms juga dikembangkan, Permukaan Magnitude (Permukaan-gelombang Magnitude). Jenis magnitudo ini diperoleh sebagai hasil pengukuran gelombang permukaan (gelombang permukaan).

Untuk jarak delta yang lebih besar dari 600 km, seismogram gempa bumi dangkal periode panjang didominasi oleh gelombang permukaan.

Gelombang ini biasanya memiliki periode sekitar 20 detik. Amplitudo gelombang permukaan sangat tergantung pada jarak delta dan kedalaman sumber gempa h. Gempa dalam tidak menghasilkan gelombang permukaan, oleh karena itu persamaan Ms tidak memerlukan koreksi kedalaman.

Kekuatan gempa bumi terkait erat dengan energi yang dilepaskan oleh sumbernya. Pelepasan energi ini mengambil bentuk gelombang yang memancar ke permukaan dan bagian dalam bumi.

Dalam perambatannya energi ini melemah karena penyerapan dari batu yang dilaluinya, sehingga energi yang mencapai stasiun rekaman kurang mampu menggambarkan energi gempa di hiposenter.

Momen Magnitudo (Mw)

Berdasarkan Teori Rebound Elastis, istilah momen seismik diperkenalkan. Momen seismik dapat diperkirakan dari dimensi pergeseran sesar atau dari analisis karakteristik gelombang gempa yang direkam di stasiun rekaman, terutama dengan seismograf periode bebas (broadband seismograf).

Magnitude Duration (MD)

Menurut Lee dan Stewart, (1981) sejak 1972, studi tentang kekuatan gempa dikembangkan dalam penggunaan durasi sinyal gempa untuk menghitung Magnitudo kejadian gempa lokal, termasuk oleh Hori (1973), Real dan Teng (1973), Herrman (1975) ), Bakum dan Lindh (1977), Gricom dan Arabasz (1979), Johnson (1979) dan Suteau dan Whitcomb (1979).

Kemudian Magnitude Duration (Duration Magnitude) diperkenalkan, yang merupakan fungsi dari total durasi sinyal seismik. (Massinon, B, 1986).

Durasi magnitudo sangat berguna dalam kasus amplitudo sinyal yang sangat besar (di luar skala) yang mengaburkan rentang dinamis sistem perekaman sehingga dimungkinkan untuk membuat kesalahan pembacaan saat memperkirakan menggunakan ML (Massinon. B, 1986).


Ada perbedaan dalam Magnitudo yang dikeluarkan oleh BMKG, USGS, GEOFON atau EMSC

Hasil penentuan Magnitudo yang dilakukan secara otomatis juga bisa berbeda karena penggunaan perangkat lunak yang berbeda.

Hasil penentuan Magnitudo yang dilakukan secara manual juga bisa berbeda karena penentuan parameter yang dimasukkan oleh analisis bisa berbeda.

Namun, perbedaan Magnitudo antara Mb dan ML hasil dari sumber gempa yang sama secara umum perbedaannya tidak melebihi 0,9 SR.

Perbedaan Magnitudo dan Skala Richter

Banyak orang masih bingung antara Magnitudo (M atau Mb) dan skala richter (SR). Banyak sekali berita tentang gempa bumi dengan judul paling banyak menggunakan skala magnitude atau richter membuat orang bertanya apa bedanya.

Perbedaan memang ada, tetapi seperti kita ketahui BMKG tidak lagi menggunakan skala Richter atau SR untuk mengukur gempa bumi, tetapi telah menggunakan magnitudo.

Nama SR digunakan sebagai penghormatan kepada seseorang bernama Charles F Richter yang telah menemukan alat pengukur gempa.

Kelebihan dan Kekurangan

Pada skala Richter mengukur kekuatan gempa menggunakan amplitudo, yang memiliki kerugian tidak menggambarkan energi lengkap dalam gempa bumi. Hal ini dijelaskan oleh Kepala Divisi Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono.

Kelemahan paling mencolok dari skala Richter adalah bahwa ketika gempa bumi di atas 6.0, skala Richter tidak lagi akurat atau tepat.

Keuntungan mengukur gempa menggunakan magnitudo, karena magnitudo memiliki cara pengukuran berdasarkan sensor frekuensi pita lebar 0,002-100 Hz. Ini berarti tingkat akurasi lebih tinggi dari skala richter.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel