Bondowoso Megalitikum

Bondowoso Megalitikum - Kabupaten kawasan tapal kuda ini memiliki potensi besar dalam hal wisata. Dikelilingi pegunungan tinggi membuat Kabupaten Bondowoso susah diakses kendaraan besar namun disukai para wisatawan terutama wisata alam dan wisata Megalitikumnya.

Bondowoso Megalitikum

Setiap tahunnya pemerintah Bondowoso melalui dinas pariswisata mengadakan pergelaran wisata alam dan megalitikum yang bertujuan mendidik anak-anak masa sekolah mengenal lebih dekat tentang megalitikum dan juga sebagai ajang promosi wisata ke kancah dunia.

Di tahun 2019 ini, Bondowoso akan mengadakan festival Bondowoso Megalitikum di Alun-alun Raden Bagus Asra Bondowoso pada tanggal 27 September 2019.

Banyak ditemukan batu besar peninggalan nenek moyang di wilayah Bondowoso yang masih utuh, ini membuktikan dulu sebelum Bondowoso berdiri sudah ada penghuninya.

Gedung Pusat Informasi Megalitikum di Bondowoso berdiri di desa Pekauman Kecamatan Grujugan. Dengan adanya gedung ini, batu Megalitikum terselamatkan dan menjadi wisata sejarah agar tunas bangsa tidak lupa akan sejarah megalitikum Bondowoso.

Zaman Megalitik umumnya disebut sebagai zaman batu besar, karena pada saat ini manusia telah mampu menciptakan dan meningkatkan budaya yang terbuat dari batu. Kata Megalitik berasal dari Megalitik yang berasal dari kata mega yang berarti besar, dan lithos yang berarti batu.

Zaman megalithikum dibagi menjadi dua gelombang yaitu :
Dalam garis besar dapat diketahui 2 kelompok seperti megalitik tua antara 2500 SM hingga 1500 SM dan megaltik muda dari milenium pertama Sebelum masehi (dikutip dari pusponegoro dan Notosusanto, 1993: 206) lihat dibuku Sejarah perang indonesia, editor: Budiharto dkk. 2009. Rajawali Pres.

Bangunan megalitik tersebar luas di Asia Tenggara. di sini tradisi yang berkaitan dengan pembangunan gedung megachithic ini sekarang telah hancur sebagian dan beberapa masih berlangsung. (Poesponogoro.`1992: 205)

Menurut para peneliti arkeologi terbukti bahwa gagasan tentang budaya megalitik tidak hanya terkait dengan penggunaan batu besar, tetapi bahkan penggunaan batu kecil bahkan kayu dianggap sebagai peninggalan megalitik jika fungsinya terkait dengan pemujaan roh-roh mulia dan upacara kesuburan.

Pada masa Megalithikum (Zaman Batu) di Indonesia, manusia purba telah mengenal kepercayaan akan kekuatan gaib atau luar biasa di luar kekuatan manusia. Mereka percaya pada hal-hal yang menakutkan atau hebat.

Selain itu mereka menyembah leluhurnya. Terkadang ketika Anda melihat pohon besar, tinggi dan subur, orang merasa ngeri. Manusia purba ini kemudian menyimpulkan bahwa kengerian itu disebabkan oleh pohon yang ada arwah yang menghuninya. Begitu juga dengan batu-batu besar dan binatang besar yang menyeramkan.

Kekuatan alam yang hebat seperti kilat, angin topan, banjir dan letusan gunung berapi dianggap menakutkan sehingga mereka memujanya seperti tuhan.

Selain menyembah benda dan binatang yang menakutkan dan dianggap magis, manusia purba juga menyembah arwah leluhur mereka.

Mereka percaya bahwa arwah leluhur mereka tinggal di tempat tertentu atau di ketinggian, misalnya di puncak bukit atau puncak pohon yang tinggi.

Untuk keturunan roh leluhur, bangunan megalitik didirikan yang umumnya terbuat dari batu inti utuh, kemudian dibentuk atau diukir sesuai dengan keinginan atau inspirasi mereka. Bangunan megalitik hampir semuanya besar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel