Perbedaan MI dan SD, Pilih Sekolah Mana Si Kecil?

Perbedaan MI dan SD - Sekarang kita akan membahas tentang beberapa perbedaan Sekolah dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Madrasah ibtidaiyah (MI) adalah jenjang paling dasar pada pendidikan formal di Indonesia, setara dengan Sekolah Dasar.

Pendidikan di SD atau MI memiliki perbandingan kurikulum yang berbeda. Perbedaan ruang lingkup kurikulum juga menyebabkan berbagai perbedaan. Kalau Anda masih bingung, berikut pertimbangan pilih SD atau MI.

Perbedaan MI dan SD dari Berbagai Segi

1. Isi atau Bahan Studi
Materi tersebut merupakan materi pelajaran yang harus diberikan oleh guru kepada siswa baik di madrasah atau sekolah. Perbandingannya dapat disebutkan dan dijelaskan sebagai berikut.

a). Madrasah
Isi atau materi pelajaran agama di madrasah ibtidaiyah sangat menonjol karena madrasah adalah lembaga pendidikan yang bercirikan atau khas Islam. Dalam perkembangan panjang keberadaannya, banyak madrasah melahirkan hal-hal positif dan negatif, sesuai dengan naik turunnya kualitas manajer yang terlibat di dalamnya.

Sehubungan dengan madrasah, instrumen utama untuk mencapai tujuan pendidikan Islam adalah materi, karena madrasah adalah sekolah yang mengambil banyak peran tentang agama, isi materi juga banyak tentang agama.

Dalam hal ini dapat dicontohkan dalam Subjek fiqh, dalam fiqh itu berisi banyak hal yang bisa dibahas dan dikembangkan, dalam pelajaran fiqih dibahas secara mendalam dan dipelajari dengan teori dan praktik sekaligus, seperti diilustrasikan dalam uraian atau kerangka silabus, yang dimadrasah dipelajari secara mendalam yurisprudensi, teori yang dijelaskan secara mendalam dan juga berarti bahwa semua siswa dapat mempraktikkannya dalam kehidupan.

Mata pelajaran Dimadrasah yang berkaitan dengan agama terfragmentasi sehingga siswa dapat mempelajari materi apa saja tentang agama mereka, misalnya pelajaran hukum, agama, aqidah, dan bahasa Arab.

Dalam yurisprudensi yang dibahas secara mendalam tentang sedekah dan infaq, materi ini harus dipahami siswa dalam teori dan praktik sehingga siswa dapat lebih mengeksplorasi dan mendapat manfaat dari materi yang dipelajari, misalnya setelah siswa memahami makna shadaqah dan infaq, maka siswa diharapkan untuk terbiasa dengan shadaqah.

Dalam hal ini dapat dikaitkan dengan pencapaian pendidikan Islam yaitu dengan mempelajari materi pelajaran yang berbeda dan terpisah antara yurisprudensi dan materi lainnya, diharapkan siswa akan benar-benar mendapatkan banyak pengetahuan, terutama tentang agama, sehingga tujuan pembelajaran Islam Pendidikan agama itu sendiri dapat berjalan dengan baik, yaitu membuat siswa percaya dan takut kepada Allah SWT yang kemudian membuat siswa mampu menjadi kamil yang gila.

b). Sekolah dasar
Isi materi pendidikan agama Islam di sekolah dasar masih membahas ruang lingkup yurisprudensi tetapi sedikit berbeda dari madrasah, jika pelajaran yurisprudensi dibahas secara mendalam tetapi tidak demikian halnya dengan sekolah dasar bahwa mata pelajaran fiqh dipelajari secara garis besar saja.

Dalam uraian tersebut telah dijelaskan materi fiqh apa yang akan dipelajari selama 1 semester, telah disebutkan bahwa studi fiqih membahas azan dan iqamah, di mata pelajaran ini siswa diharapkan dapat melafalkan dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari misalnya sebelum shalat siswa diharapkan melafalkan seruan sholat dan iqamah.

Tetapi melihat bahwa materi pelajaran yang tidak sama antara sekolah dasar dan madrasah juga dapat membedakan hasil belajar, di madrasah setiap mata pelajaran yang menyangkut masalah agama terfragmentasi sedangkan jika di sekolah tidak.

Dari sini, dapat dihubungkan kembali dengan pencapaian tujuan pendidikan agama Islam di sekolah dasar, yang nyata dan aktual, tujuannya adalah membuat siswa memiliki kekuatan akidah dan kedalaman spiritual, keunggulan moral dan wawasan agama. Namun pada kenyataannya dilihat dari materi pelajaran di sekolah untuk mencapai tujuan tersebut nampaknya sedikit sulit karena materi tidak dibahas secara mendalam tetapi hanya secara garis besar saja.

2. Alokasi Waktu
Alokasi waktu dalam setiap pelajaran harus ada di sana dan antara madrasah dan sekolah dasar juga berbeda dalam alokasi waktu dalam mempelajari setiap materi PAI di sekolah atau sekolah sehingga keduanya dapat memiliki pencapaian tujuan PAI yang berbeda dengan materi dan alokasi waktu yang berbeda. 

Berikut ini adalah deskripsi dari masing-masing sekolah mengenai alokasi pelajaran waktu materi PAI di setiap sekolah baik MI dan SD.

a). Madrasah
Di madrasah alokasi waktu dalam setiap materi sangat berbeda karena materi untuk pelajaran agama sangat banyak sehingga membutuhkan banyak waktu juga. Jika Anda melihat begitu banyak waktu pelajaran PAI di madrasah karena banyaknya materi yang akan dibahas.

Subjek yurisprudensi memiliki studi sendiri dengan materi lain, serta materi lainnya sehingga semakin banyak materi yang akan dibahas, semakin banyak waktu yang akan digunakan. Alokasi waktu yang dihabiskan di madrasah untuk 1 materi diskusi tentang studi fiqh, misalnya, adalah sekitar 45 menit. Demikian juga dengan studi tentang materi lain.

b). Sekolah dasar
Alokasi waktu masing-masing materi PAI sangat berbeda dari madrasah jika dalam satu madrasah 1 minggu dapat mencapai lebih dari 6 jam untuk materi agama hanya termasuk pelajaran fiqh dan lainnya, sedangkan alokasi waktu di sekolah hanya 2-3 jam setiap 1 mi
Sumber :

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel