Solusi Penculikan Anak

Solusi Penculikan Anak - Salah satu masalah yang baru-baru ini disorot oleh berbagai media massa adalah kasus penculikan yang semakin lazim akhir-akhir ini. Misalnya saja kasus penculikan yang menimpa Raisya Ali, bocah TK.

Banyak media massa meliput berita tersebut, sehingga tidak mengherankan jika kasus ini menyita banyak perhatian dan simpati publik. Bahkan seorang presiden SBY melalui siaran TV, meluangkan waktu untuk memberikan beberapa kata untuk memberikan dukungan moral kepada keluarga dan meminta penculik mengembalikan anak itu.

Dari berbagai kasus penculikan yang terjadi, jika dicermati, ternyata yang menjadi korban seringkali anak-anak balita. Beberapa hal yang bisa menjadi penyebabnya adalah karena sifat mereka yang pada umumnya tidak memiliki prasangka, mudah dibujuk atau dimanipulasi, dan masih memiliki banyak keterbatasan dalam hal kekuatan fisik, logika berpikir dan keberanian.

Jika diteliti lebih lanjut, ternyata ada berbagai motif yang dapat melandasi penculikan ini, seperti motif ekonomi, perjuangan untuk hak asuh anak, gangguan perilaku, balas dendam, sosial, politik, dll.

Akibat dari kerugian yang bisa dialami oleh korban dan keluarga mereka akibat bencana ini bisa beragam, seperti kehilangan materi, gangguan fisik, gangguan psikologis hingga hilangnya nyawa satu anggota keluarga.

Bayangkan betapa sedihnya hati orangtua yang anak-anaknya diculik, jika ternyata ketika ditemukan, anak-anak dalam keadaan cacat, stres, depresi, trauma atau bahkan dalam keadaan tidak bernyawa.

tips mencegah Penculikan Anak

Dengan melihat banyak konsekuensi dari hilangnya bencana ini, penting untuk mencoba cara-cara yang dapat mencegah anak-anak diculik.

Berikut adalah beberapa tips menghindari penculikan anak :
  1. Jelaskan kepada anak-anak tentang pentingnya waspada terhadap orang lain, terutama bagi orang yang tidak dikenal karena ada kemungkinan bahwa mereka memiliki niat buruk. Sikap waspada ini, misalnya, dapat diajarkan kepada anak-anak dengan menolak diundang untuk meninggalkan atau menolak hadiah dari orang lain jika mereka belum menerima izin dari orang tua mereka, tidak sembarangan membiarkan orang asing memasuki rumah, tidak pergi sendirian tanpa orang dewasa yang dapat bertanggung jawab atas keselamatannya.
  2. Jika Anda ingin mengajak anak-anak pergi ke tempat yang ramai, ajarkan anak-anak untuk tidak memisahkan diri dari orang tua atau pengasuh mereka dan memberikan anak-anak pengetahuan tentang lokasi petugas informasi atau penjaga keamanan, nama orang tua dan nomor telepon dan cara mudah menemukan orang tua jika mereka tersesat.
  3. Lengkapi anak-anak dengan teknik dasar seni bela diri sehingga mereka dapat melepaskan diri langsung dari penculik. Berikan simulasi penculikan sehingga anak-anak dapat mengetahui tindakan apa yang harus mereka ambil jika seseorang mencoba menculiknya secara paksa. Misalnya, dengan berteriak minta tolong, segera lari ke satpam atau berusaha menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
  4. Orang tua perlu berkolaborasi dengan sekolah untuk bersama-sama mencegah terjadinya penculikan. Misalnya, dengan menciptakan sistem di mana sekolah hanya mengizinkan anak-anak untuk meninggalkan sekolah jika mereka diambil oleh orang-orang yang identitasnya sesuai dengan yang diberikan oleh orang tua atau anak-anak diambil oleh mobil jemputan sekolah mereka.
  5. Orang tua harus hati-hati memilih orang yang dipekerjakan di rumah, terutama pengasuh dan pengemudi. Misalnya, dengan memeriksa identitas dan kredibilitas mereka dengan pemasok di mana kami membawanya atau ke majikan tempat mereka bekerja sebelumnya. Jangan sembarangan meminta orang lain yang belum dipercaya menjemput anak di sekolah. Cobalah minta orang tua untuk mengambil pickup mereka sendiri jika tidak ada orang lain yang bisa dipercaya.
  6. Orang tua perlu memberi tahu anak-anak mereka, jika ada orang yang dicurigai berpotensi membalas dendam, memiliki konflik atau bersaing dengan bisnis sehingga anak-anak dapat berhati-hati atau menjauh ketika mereka bertemu orang-orang ini.
  7. Buat anak-anak untuk tidak sembarangan memberikan informasi tentang keluarga, seperti kebiasaan atau jadwal orang tua, nomor telepon dan alamat rumah kepada orang asing yang bertanya kepadanya baik secara langsung atau melalui telepon. Karena informasi ini dikhawatirkan disalahgunakan untuk niat jahat seseorang.
  8. Tidak peduli seberapa sibuk orang tua, cobalah untuk tetap memantau dan berkomunikasi dengan anak-anak. Misalnya, dengan menelepon anak-anak atau menyediakan waktu untuk mendengar cerita anak-anak tentang peristiwa yang mereka alami sepanjang hari. Ini diperlukan agar orang tua dapat mengantisipasi kemungkinan seseorang yang memiliki niat jahat pada anak.
Selain upaya di atas, satu hal yang juga sangat penting untuk kita lakukan adalah berdoa kepada Yang Mahakuasa agar semua kerabat kita dilindungi dari penculikan atau musibah lainnya. Karena betapapun hebatnya upaya kita, itu pasti tidak akan berhasil jika kita tidak mendapatkan berkah-Nya. Semoga Tuhan selalu memberi kita keselamatan, Amin.

Sumber :

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel