Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso

Pusat Informasi Megalitikum - Pusat Situs Megalitikum Bondowoso menjadi Lokasi Wisata Sejarah. Banyaknya situs sejarah yang tersebar di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, ternyata tak mampu mengundang banyak pelancong untuk berwisata ke Kota Tape Bondowoso ini.

Kaya Situs Sejarah, Bondowoso Layak Jadi Kota Megalitikum, Bupati Bondowoso Salwa Arifin yang akrab di panggil Kyai Salwa mendirikan Pusat Informasi Megalitikum dan mendeklarasikan Bondowoso Kota Megalitikum. Dengan adanya deklarasi ini berharap pelancong luar kota untuk berwisata ke Bondowoso terutama wisata sejarah.

Berdasarkan data, total ada 1.215 situs megalitikum yang tersebar di seluruh kecamatan yang ada di Bondowoso, setiap kecamatan ada walaupun ini butuh penelitian ulang. Tak hanya di situs Kauman. Benda megalitikum banyak tersebar di beberapa situs di daerah Bondowoso seperti situs Glingseran, situs Pujer, situs Prajekan, dan Situs Tapen.

Alamat Gedung Kantor Pusat Informasi Megalitikum terletak di Desa Pekauman Kecamatan Grujugan Kabupaten Bondowoso. Pusat informasi megalitikum Bondowoso boleh di kunjungi siapa saja, terutama anak sekolah sebagai ajang pendidikan, mendidik anak mengenali sejarah dan merawat warisan budaya Indonesia.

Tradisi megalitik adalah salah satu bentuk ciptaan manusia yang ditandai dengan benda-benda megalitik dalam bentuk bangunan batu. Istilah megalitik berasal dari kata mega yang berarti besar, dan lithos yang berarti batu.


Pembentukan bangunan megalitik selalu didasarkan pada kepercayaan pada hubungan antara yang hidup dan yang mati. Keyakinan ini mengasumsikan bahwa roh seseorang tidak hilang ketika orang mati. Roh dianggap memiliki kehidupan dalam sifatnya sendiri setelah manusia mati.

Kemudian muncul kepercayaan bahwa arwah-arwah ini masih berhubungan dengan orang-orang yang masih hidup, dan dianggap memiliki pengaruh kuat pada kesejahteraan rakyat.

Definisi megalit sebagai batu besar dalam kenyataannya tidak selalu diterapkan sesuai dengan makna yang sebenarnya. Tetapi menurut FA Wagner dalam "Indonesia: The Art of an Island Group" menyatakan bahwa bangunan megalitik bukan hanya batu besar tetapi batu kecil dan bahkan tanpa monumen dapat dikatakan megalitik jika mereka dimaksudkan untuk menyembah roh leluhur (Wagner, 1962: 72).

Bangunan megalitik tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Bentuk-bentuk bangunan megalitik sangat beragam dan meskipun suatu bentuk berdiri sendiri atau bentuk tertentu merupakan suatu kelompok, tujuan utama bangunan tersebut tidak luput dari latar belakang pemujaan arwah leluhur, dan harapan kesejahteraan bagi yang hidup, dan kesempurnaan untuk hidup. almarhum.

Banyaknya temuan bangunan megalitik di Indonesia mengundang banyak pendapat dari para ahli tentang asal mula masuknya budaya megalitik ke Indonesia. Pada 1913, W. W.R. muncul. River dan G. Elliot Smith (dalam Perry, 1918) yang telah melakukan penelitian tidak hanya di Eropa dan di wilayah Mediterania, tetapi juga di wilayah Oceania.

Pendapat G. Elliot Smith, berdasarkan distribusi bangunan megalitik, mengungkapkan bahwa wilayah Mediterania dipengaruhi oleh tradisi megalitik Mesir. Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa ada hubungan langsung antara bangunan megalitik di Eropa dan Mediterania dengan pemuja matahari. Dia juga mengatakan bahwa bangunan megalitik di wilayah Oceania diciptakan oleh penyembah matahari.


Sementara pendapat lain datang dari W.H.R. River mengungkapkan bahwa hubungan budaya telah terjalin antara Indonesia dan Mediterania, dan Polinesia. Dalam penyebaran budaya ini, Indonesia memiliki posisi yang sangat penting, karena merupakan mata rantai yang menghubungkan migrasi dari barat ke wilayah Pasifik yang tidak lain adalah pendiri bangunan megalitik pemujaan matahari / matahari (Sutaba, 2001: 4).

Selain itu, spekulasi muncul tentang asal mula tradisi megalitik yang dipengaruhi oleh pemahaman hyper-difusionism dari MacMillan Brown (1907) yang berpendapat bahwa tradisi megalitik ini dilakukan oleh orang Kaukasia yang datang melalui Mediterania dan Asia Selatan.

Peneliti lain W.J. Perry (1918) mengasumsikan bahwa bangunan megalitik di Indonesia berasal dari Mesir Kuno yang dibawa oleh keturunan Dewa Matahari (Perry, 1918: 180 - 183 dalam Sutaba, 2001: 4). Dia menambahkan, bahwa para imigran dari Mesir ini adalah pencari emas yang memperkenalkan karya batu dan menyembah matahari kepada orang-orang Indonesia.

Ternyata pendapat ini tidak dapat diterima oleh para ahli pra-sidang, karena tidak ada bukti yang mendukung pendapat itu (Mulia, 1981 dalam Sutaba, 2001: 5).

Penyebaran tradisi megalitik di hampir seluruh Indonesia, H.Von Heine Geldern berpendapat, bahwa tradisi ini dibawa oleh pengguna bahasa Austronesia yang datang ke Indonesia melalui India dan Malaka. Diduga bahwa Indonesia menerima tradisi megalitik dalam dua gelombang, yaitu sebagai berikut.

Megalit kuno diwakili oleh menhir, tangga batu, dan patung simbolis-monumental bersama dengan para pendukung kapak yang diperkirakan 2500 - 1500 SM dan termasuk dalam zaman Neolitik. Megalitikum tua ini dibawa oleh imigran melalui Tonkin ke Malasyia Barat dan masuk ke Indonesia melalui Sumatra. Dari Sumatera, sebagiannya berlanjut ke Jawa dan berlanjut ke Nusa Tenggara, sedangkan sisanya menyebar ke Kalimantan dan berlanjut ke utara.

Megalit muda diwakili oleh, antara lain, peti kubur batu, dolmen semu, sarkofagi, yang berkembang pada periode yang telah mengenal perunggu dan berada di sekitar awal milenium pertama sebelum Kristus hingga abad-abad pertama Masehi. (Soejono, ed, 1984: 223 - 224). Megalitikum muda ini diperkirakan bergabung dengan budaya Dongson.

Di Indonesia keberadaan bangunan megalitik sangat umum. Hingga saat ini, angka pastinya belum dihitung. Namun, hasil penelitian menunjukkan distribusi yang sangat luas, baik mulai dari ujung barat (Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatra Selatan, dan Lampung), kemudian di Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur), Sulawesi (Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan), ke daerah-daerah di wilayah timur (Bali, Sumba, Sumbawa, Flores, Timor, Sabu, Maluku dan Papua).

Temuan bangunan megalitik tentu tidak terlepas dari latar belakang kepercayaan pendukungnya. Pada dasarnya bangunan-bangunan megalitik ini diciptakan karena konsep kepercayaan pada kehidupan setelah mati. Berdasarkan konsep ini para pendukung tradisi megalitik menyembah leluhur.

Secara umum, dalam melaksanakan pemujaan leluhur, pendukung tradisi megalitik menggunakan media, baik dalam bentuk bangunan besar maupun tanpa bangunan sama sekali. Bangunan megalitik ini bisa dalam bentuk punden berundak, dolmen, kursi batu, altar batu, menhir, dan arca megalitik.

Patung-patung megalitik dalam kaitannya dengan kebutuhan manusia, tampaknya hanya merujuk pada aspek keagamaan. Patung megalitik erat dalam aspek keagamaan, dalam hal ini berkaitan dengan pemujaan arwah. Lalu ada beberapa tokoh yang menyebutnya sebagai arca leluhur, arca penyembahan berhala, dan arca leluhur.

Arca megalitik pada dasarnya dapat terdiri dari arca manusia dan arca binatang. Oleh karena itu perlu ditinjau konsep arca, karena saat ini terdapat temuan arca megalitik berupa binatang seperti harimau, kera, gajah dan lain-lain yang berhubungan langsung dengan sisa-sisa megalitik lainnya.

Di provinsi Jawa Timur tepatnya di Kabupaten Bondowoso terdapat arca megalitik berupa batu kenong, sarkofagus, arca dan kubur batu. yang terletak di Desa Pekauman Kecamatan Grujugan Kabupaten Bondowoso. Temuan batu kenong, sarkofagus, arca dan kubur batu sangat dekat dengan temuan batu tegak di sekitarnya.

Kami ingin mendengar pengalaman anda dan juga kritikan terkait artikel di atas, mohon untuk mengisi kolom komentar. Terima kasih telah mengunjungi website ini dan ayo bewisata ke Bondowoso, jangan lupa share agar lebih bermanfaat.

Sumber : 

Lorem ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry.