Peran Ki Ronggo dan Kyai Togo Ambar Sari Dalam Sejarah Kabupaten Bondowoso

bendebesah.com - Sejarah BondowosoKabupaten Bondowoso merupakan kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Dari cerita Sejarah Bondowoso ini, Kabupaten Bondowoso dahulu kawasan hutan belantara karena Kabupaten Bondowoso tidak berpenghuni dan memiliki dataran tinggi. Yuk kita pelajari asal usul Bondowoso dan siapa yang babat pertama kali huta Bondowoso.

Dari asal usul Bondowoso itulah kita tahu siapa pertama kali yang membabat hutan belantara. Tidak banyak yang tahu asal usul Bondowoso, maka dari itu kita harus mengetahui sejarah Bondowoso, asal usul Bondowoso, sejarah rumah adat Bondowoso, sejarah gerbong maut Bondowoso, sejarah kironggo, sejarah alun-alun Bondowoso, makam kironggo, bupati pertama Bondowoso dan siapa yang menjadi pelopor terbentuknya Bondowoso (Pahlawan Bondowoso).

Kabupaten Bondowoso berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di utara, Kabupaten Banyuwangi di timur, Kabupaten Jember di selatan, serta Kabupaten Probolinggo di barat. Ibukota kabupaten Bondowoso berada di persimpangan jalur dari Besuki dan Situbondo menuju Jember. Bondowoso di kelilingi pegunungan yang penuh hutan maka dari itu orang mengenal Bondowoso sebagai kota hantu karena hantu Bondowoso terbilang sangat seram dan banyak.


Mari kita cari tahu pahlawan Bondowoso
Togo Ambar Sari kebanyakan orang mengenal julukan Kyai yang satu ini bernama Sariman. Memang nama Togo Ambar Sari tidak tercatat dalam sejarah intelektual pesantren, ketenaran Togo Ambar Sari tidak sebesar K.H. Hasyim Asy'ari dalam perjuangan dan mempertahankan republik ini, atau tidak sekuat Sheikh Nawawi al-Bantani yang di akui kemampuan sainsnya ke seluruh dunia. Namun, Kyai Togo Ambar Sari adalah anak bangsa yang digugu dan ditiru menjadi panutan bagi generasi penerus.




Banyak versi asal dan makna nama orang yang memberi julukan Togo Ambar Sari dan apa arti julukannya, namun ada riwayat yang benar bahwa nama tersebut diberi oleh Kyai Hasan Genggong saat ia sowan bersama dengan mertuanya. Saat itu gurunya berkata "Molaen satia enyamain Togo Ambar Sari, ben tongguen Bendebesah" (kamu sekarang saya panggil Togo Ambar Sari, kamu adalah tempat pengaduan orang Bondowoso) dan pastinya, dia adalah sosok karismatik yang penuh dengan kesederhanaan yang menjadi "pengaduhan" wilayah Bondowoso, Jember, Banyuwangi, Situbondo dan Probolinggo.

Sebenarnya, Drs. K.H. Hasan Basri, Lc, Rektor IAII Sukorejo mengakui sosok Kyai yang penuh kesederhanaan. Al-kisah kesederhanaannya, saat dia mendapat kunjungan dari Hadratus Syaikh KHR. As'ad Syamsul Arifin, dalam rangka peresmian madrasah dia dilatih. 

Kyai juga hadir, termasuk Kyai Mino, Kyai Hosnan, dan lain-lain. Ratusan mata pengunjung terpaku pada tokoh 'ulama' ini. Uraian awal pertemuan kyai ini berlangsung dengan megah, dan meriah dihiasi pernak-pernik. Sebaliknya, sosok Kyai Togo tampil dengan kesederhanaan, berpakaian seperti dalam kehidupan sehari-hari.

Sungguh luar biasa, meski hidup dikelilingi pesona dunia. Berkilau dengan senang hati, Dia tidak memelototinya, tidak terganggu dengan kekayaannya. Tidak besar kepala dengan keharuman namanya. Konon, di setiap tamu yang sowan, beliau sama sekali tidak ingin memakai uang cabisan, bahkan diletakkan di sela anyaman bambu ke pagar dinding rumah.

Tepat pada tanggal 27 April 1997, Semua sangat bersedih dan berduka, terutama kota Bondowoso, karena 'Alam ad-Din (Ikon agama), Kyai Togo Ambar Sari meninggal dunia ke Rahmatullah. Bergemuru masyarakata Bondowoso di saat mendengar kepergiannya. Ribuan orang yang berdatangan secara bergiliran, datang untuk membacakan doa sampai ke tempat makam.

Kyai Togo sebelum diganti nama Sariman adalah bernama Madra'i yang lahir di desa Hamlet Salak, Desa Tangsil Wetan, Kabupaten Wonosari. Disebut dusun gerdu salak, konon katanya desa itu dipenuhi dengan tanaman salak, terutama di daerah aliran sungai. Di antara pohon ada pondok kecil (surau) yang biasanya dibuat istirhat sejenak oleh penduduk setempat.

Adapun tentang tanggal lahirnya, tidak ada data yang valid tentang keabsahan tanggal lahirnya. Namun, kelahirannya di ramalkan akhir abad ke-18 Masehi. Hal ini bisa di maklumi, karena penduduk desa primitif tidak banyak memperhatikan dan mencatat tanggal lahirnya.

Prediksi ini tidak berarti tanpa data. Salah satunya adalah mbah Cong (Mukhlis), orang tua K.H Mudarris yang merupakan teman pondok saat berada di daerah paciran Mangaran Situbondo. Mbah Mukhlis berusia 125 tahun di tahun 2008, saat kematiannya. Sebelumnya mamang ahlul warisi diprediksi saat wafatnya, kyai Togo berusia 110 tahun. Mengacu pada pernyataan di atas, Kyai Togo lahir sekitar tahun 1885-1890.

Jalan lainn adalah mengitung jarak kelahiran anak beliau. Saat anak kedelapan lahir pada tahun 1955, sedangkan jika waktu jarak antara anak laki-laki dan anak laki-laki lainnya adalah 4 tahun. Dengan demikian, masa kelahiran semua anaknya adalah 32 tahun. 

Jika di kalkulasi sehingga beliau menjalani rumah tangga sejak tahun 1923 dan jika pada masa perkawinannya seorang pemuda berusia 25 tahun atau lebih karena santri. Dengan demikian, ia lahir antara tahun 1895-1905.
Namun, ramalan ini membutuhkan penelitian yang lebih mendalam agar bisa siap untuk suatu tujuan berdasarkan hasil tertulis dan hasil seseorang yang bersamanya.

Bondowoso dan Besuki sedikit memiliki budaya dan dialek yang sama dengan masyarakat Pamekasan, Madura, sedangkan masyarakat Panarukan Kabupaten Situbondo sebelah timur memiliki kesamaan budaya dan dialek dengan masyarakat Sumenep.

Pada tahun 1743 terjadi pemberontakan terhadap Lesapap melawan Pangeran Tjakraningrat karena dia adalah anak seorang selir. Pertarungan yang terjadi di desa Bulangan menewaskan Adikoro IV.

Pada tahun 1750 pemberontakan tersebut bisa dipadamkan dengan kematian ke Lesap. Ada terjadi pemulihan di angkatkannya ank dari Adikoro IV, yakni RTA Tjokroningrat. Tak lama terjadi pergulatan kekuasaan dan pemerintah dialihkan ke putra Tjokroningrat I Adikoro III yang bergelar Tumenggung Sepuh bersama R. Bilat sebagai patihnya. 

Khawatir tentang keamanan Raden Bagus Assra, Nyi Sedabulangan membawa cucunya lari dengan eksodus besar pengikut Adikoro IV ke Besuki. Assra kecil ditemukan oleh Ki Patih Alus, Patih Wiropuro untuk kemudian di tampung serta di didik bela diri dan pengetahuan agama.

Pada masa pemerintahan Bupati Ronggo Kiai Suroadikusumo di Besuki berkembang pesat dengan berfungsinya Pelabuhan Besuki yang mampu menarik minat pedagang jauh. Dengan kepadatan penduduk, perlu dikembangkan kawasan tersebut dengan membuka hutan, yaitu ke arah tenggara.

Kiai Patih Alus mengusulkan Mas Astrotruno (Raden Bagus Assra), anak angkat Ronggo Suroadikusumo, menjadi orang yang menerima tugas membuka hutan. Usulan tersebut diterima oleh Kiai Ronggo-Besuki, dan Mas Astrotruno juga dapat mengambil alih tugas tersebut. 

Kemudian Kiai Ronggo Suroadikusumo menikahi Mas Astotruno dengan Roro Sadiyah, putri Bupati Probolinggo Joyolelono. Ayah mertua Mas Astrotruno menyajikan kerbau "Jasmine" berkulit putih (tanduknya melengkung ke bawah) untuk menjadi pendamping perjalanan dan pemandu mencari daerah subur.

Perkembangan kawasan ini dimulai pada tahun 1789, disamping tujuan politik sekaligus upaya penyebaran agama Islam karena di wilayah yang menjadi target orang masih menyembah berhala. Mas Astrotruno dibantu oleh Puspo Driyo, Jatirto, Wirotruno, dan Jati Truno berangkat ke selatan, menerobos daerah pegunungan di sekitar Arak-Arak-Jalan Nyi Melas. Rombongan itu berbelok ke timur menuju Dusun Wringin melalui gerbang bernama "Lawang Sekateng".

Nama desa yang di lalui Mas Astrotruno, Wringin, Kupang, Poler dan Madiro, yang menuju ke selatan adalah desa Kademangan dengan membangun pondok resor di barat daya Kademangan (mungkin di Desa Nangkaan sekarang).

Selain itu juga berada di utara Glingseran, tamben dan Ledok Bidara. Di sebelah barat adalah Selokambang (kotakulon), Selolembu, Sumbersuko. sisi timur adalah Tenggarang, Pekalangan, Wonosari, Jurangjero, Tapen, Prajekan dan Wonoboyo.

Di sebelah selatan ada Sentong, Bunder, Biting, Patrang, Baratan, Jember, Rambi, Puger, Sabrang, Menampu, Kencong, Keting. Populasi saat itu adalah lima ratus orang, sementara masing-masing desa dihuni, dua, tiga, empat orang. 

Kemudian kediaman penguasa dibangun di sebelah selatan Sungai Blindung, sebelah barat Sungai Kijing dan sebelah utara Sungai Growongan (Nangkaan) yang dikenal sebagai "Distrik Lama" Blindung, ± 400 meter di utara alun-alun.

Pada tahun 1789-1794 membuka jalan untuk mendirikan wilayah penguasa, Mas Astrotruno pada tahun 1808 diangkat menjadi predikat Abhiseka Mas Ngabehi Astrotruno, dan titelnya "Demang Blindung". Pembangunan kota itu dirancang, kediaman para penguasa menghadap ke selatan di utara alun-alun. 

Dimana alun-alun awalnya untuk kerbau putih favorit Mas Astrotruno, karena rumput rumput pun tumbuh. Seiring waktu ini berfungsi sebagai alun-alun kota. Di sebelah barat dibangun sebuah masjid yang menghadap ke timur. Mas Astrotruno mengadakan berbagai tontonan, antara lain adu puyuh (gemak), sabung ayam, kerapan sapi, dan adu sapi untuk menghibur pekerja. Tontonan adu ternak diadakan secara berkala dan menjadi tontonan mayarakat di Jawa Timur sampai tahun 1998. Atas jasanya, Astrotruno ditunjuk sebagai Nayaka dan Jaksa Negeri.

Dari ikatan Keluarga Besar "Ki Ronggo Bondowoso" mendapat informasi di tahun 1809 Raden Bagus Asrah atau mas Ngabehi Astrotruno sebagai patih berdiri sendiri (zelfstanding) dengan nama Abhiseka Mas Ngabehi kertonegoro. Beliau sebagai penemu (pendiri) sekaligus penguasa pemerintah pertama (penguasa pertama) di Bondowoso. 

Kediaman Ki Kertonegoro yang semula bernama Blindung, dengan perkembangan kota berganti nama menjadi Bondowoso, sebagai ganti kata wana wasa. Maknanya kemudian berkorelasi dengan kata bondo, yang berarti modal, ketentuan, dan woso yang berarti tenaga. Begitulah caranya: meresmikan negara (kota) semata-mata karena ibu kota klerus akan menganggap tugas yang diberikan kepada Astrotruno untuk membersihkan hutan dan membangun kota.

Meski Belanda sudah bermarkas di Puger dan secara administratif formal memasukkan Bondowoso masuk ke daerah kerkuasaannya, namun dalam penunjukan personil praja masih kuat pada Ronggo Besuki, maka tidak ada yang berhak mengklaim kelahiran kota baru Bondowoso selain Mas Ngabehi Kertonegoro. Hal ini dikuatkan dengan pemberian izin kepadanya untuk terus berupaya membabat hutan sampai kematian Sri Bupati di Besuki.

Pada tahun 1819 Bupati Adipati Besuki Raden Ario Prawiroadiningrat meningkatkan statusnya dari Kademangan ke daerah bebas Besuki dengan status Keranggan Bondowoso dan Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa daerah dengan judul Mas Ngabehi Kertonegoro, dan dengan sebutan Ronggo I. 

Hal ini berlangsung pada hari Selasa Kliwon, 25 Syawal 1234 H atau 17 Agustus 1819. Acara tersebut juga dibuat menjadi daerah resmi Bondowoso sebagai otonom di bawah kekuasaan Kiai Ronggo Bondowoso. Kekuatan Kiai Ronggo Bondowoso mencakup wilayah Bondowoso dan Jember, dan berlangsung antara 1829-1830.

Pada tahun 1830 Kiai Ronggo mengundurkan diri dan kekuasaannya ke putra terpilih (putra kedua) bernama Djoko Sridin yang pada waktu\ itu menjabat Patih di Probolinggo. Posisi baru ini antara tahun 1830-1858 dengan judul M. Ng Kertokusumo dengan judul Ronggo II, yang berbasis di Blindungan sekarang atau jalan S. Yododiharjo (jalan Ki Ronggo) yang dikenal masyarakat sebagai "kabupaten tua".

Setelah mengundurkan diri, Ronggo I melanjutkan bidang dakwah agama Islam dengan menetap di Kebundalem Tanggulkuripan (Tanggul, Jember), Ronggo I meninggal pada tanggal 19 Rabi'ulawal 1271 H atau pada tanggal 11 Desember 1854 pada usia 110 tahun. Jadi dari hari ke hari Raden Bagus Assra berhasil mengembangkan Kawasan Kota Bondowoso dan tepatnya pada 17 Agustus 1819 atau Selasa kliwon, 25 Syawal 1234 H. Duke Besuki R. Aryo Prawirodiningrat sebagai orang kuat yang mendapat kepercayaan dari Gubernur Hindia Belanda. 

Dalam rangka menstabilkan strategi politik membuat kawasan Bondowoso terpisah dari Besuki, dengan status Keranggan Bondowoso dan R. Bagus Assra atau Mas Ngabehi Astrotruno menjadi penguasa daerah dan tokoh agama, dengan gelar M. NG . Kertonegoro dan predikat Ronggo I, penyerahan Tombak Tunggul Wulung.

Tanpa kecuali desa Gerund Salak yang saat itu dipimpin oleh orang tempo dulu dengan nama sebutan bangsawan dari pulau garam. Bangsawan ini segera melahirkan sosok kiai se karisidenan Besuki, kyai Togo Ambar Sari.

Dia adalah al-Allama al-Arifbillah yang tidak di ragukan lagi kewaliannya lahir dari seorang abid bernama Magidin yang berpasangan dengan Safinah yang dikatakan sebagai ahli berpuasa, Kyai Magidin sendiri memiliki 4 putra. Pertama, Madra'i (Kyai Togo). Kedua, Syafiuddin. Ketiga, Radiyah. Keempat, Suhdin. Secara umum di masyarakat desa nama anak pertama sebagai nama bapaknya. Oleh karena itu, Magidin pada waktu itu disebut bapak Madra'i.

Yang sudah di ceritakan di atas Kyai Togo lahir dari pasangan Kyai Magidin dan Nyai Safinah dari garis silsilah ayah Kyai leluhur Togo asal Kyai Togo yang berasal dari desa Tegal Mojo yang konon sepupu di sana nenek moyang masyarakat di desa tersebut adalah bujuk lidah dari pulau garam Madura. Salah satu putra Bujuk Lidah adalah Kyai Sainyo. Sementara Kyai Sainyo sendiri adalah kakek almarhum Kyai Togo Ambar Sari.

Sementara dari jalur ibu, ibu Kyai Togo adalah Bujuk Reduh. Bujuk Reduh adalah kepala desa tangsel basah pertama. Nama sebenarnya adalah H. Sueb. Konon, julukan itu disematkan padanya karena pelantikan hujan deras. Padahal, menurut beberapa sepupu penduduk desa, setiap orang tak kalah senang dengan sesuatu, lalu hujan deras. Menurut informasi yang diperoleh, Nyai Safinah adalah anak perempuan Sajiyah dimana Sajiyah sendiri adalah anak pertama dari Bujuk Reduh.

Kyai yang terkenal dengan zuhudannya memiliki delapan anak nikah dengan nyai Yahyana. Pertama, Asmina (Almarhum). Sibayak kedua (Alm). Syafi'i ketiga (alm). Keempat, Toha (KH Farisi). Kelima, Hasan (alm, KH Zubair). Keenam, abdul Halim. (alm). Ketujuh, Muhammad (alm). Kedelapan, Drs.KH. Salwa Arifin.

Menurut Ahlul Bait dan beberapa santri berusia 50an dan 60an, Kyai Togo Kecil dulu belajar ke H. Abdul Gaffar, desa Kyai tangsel. Sebelum melalui petualangan ilmiahnya, kyai Togo memiliki masa kanak-kanak kecil di daerahnya -Tangsel Wetan - saat kecil bermain dengan teman-temannya.
Tidak ada data tertulis tentang kebangkitan kembali tokoh Kyai Togo. Namun, banyak di akui banyak orang disebut kutu buku sebelum akhirnya mengambil jalan zuhud-an.

Setelah bisa mengaji Alquran, Beliau memperoleh kesempatan untuk mencari ilmu ke beberapa pesantren. Menurut Drs. KH. Salwa Arifin, almarhum sudah berada di daerah Bangsal, Jember, Jawa Timur dengan nama gurunya adalah KH. Ilyas walaupun menurut beliau mondoknya cukup singkat.

Ia juga telah menimba ilmu yaitu di wilayah pacenan Kabupaten Sitaran Sitaran dalam bimbingan KH. Sholeh, konon menurut pengurus pondok pecenan ketiga KH. Abdul latif, cucu KH. Sholeh, kiai Togo nyantri di pecenan sebelum 1922. Ini berdasarkan tahun berdirinya masjid yang berada tepat di sebelah gubuk. Sebelum masjid dibangun, santri pacenan sholat jum'at di masjid yang berada di kecamatan sekitar 15 km jaraknya.

Selanjutnya, menurutnya, kyai Togo termasuk generasi penerus yang nyantri di pondok pecenan yang setiap Jumat masih menggelar sholat Jum'at di masjid yang berada di Kabupaten Mangaran. Di pondok kyai togo sangat sangat membangun ilmu haliyah (tata krama) sehingga membentuk dirinya sebagai pribadi yang luhur.

Ada sebuah cerita menarik saat menimba ilmu di pacenan, burung merpati milik gurunya tergantung di atas bambu. Disuruhu kyai untuk naik bambu mengambil burung. Meski bambu keropos, beliau langsung mengambil sangkar burung di bambu tanpa memperdulikan bambu keropos karena ta'diman (hormat) kepada gurunya. Tanpa diduga bambu yang memanjat tidak patah. Pada saat turun, maka bambu itu patah.

Juga almarhum telah menimba ilmu pengetahuan ke wilayah Besuki. Hal ini menurut Mas Sofwan, cucu pengasuh yang pernah membimbing almarhum. Santri masa lalu, Kyai Togo menanamkan kemandiriannya sampai meleket di dalam dirinya, melakukan riyadhoh tanpa henti dan lelah, belajar tanpa kenal waktu dan usia.

Merasa tidak puas dengan ilmunya tersebut, beliau melanjutkan pengetahuan mengembara ke pesantren Zainul Hasan, Genggong Probolinggo. Di pesantren ini, Kyai Togo belajar sekira 10 tahun. Di pesantren ini juga, cerita unik tentang diri Kyai Togo dimulai, ini tidak terlepas dari riyadhoh-riyadhoh yang beliau lakukan. Diantara riyadhohnya adalah puasa dan sedikit makan.

Ada cerita tak kalah dengan cerita diatas pada saat beliau santri di Genggong, sejak awal nyantri sampai satu minggu lagi, tiba-tiba dia jatuh pingsan seusai sholat Jum'at karena tubuhnya lemas. Dari sini nampak jelas dia memurnikan jiwa dan raga sebelum menerima ilmu dari gurunya. Inilah akhirnya dia membuat seorang ulama 'kharismtik' pada akhirnya. Namun, riyadhoh yang paling unik yang dilakukan adalah menunggu dan membalikkan sandal kyai. Sehingga gurunya tidak repot saat akan keluar. Hal ini selalu dilakukan sampai akhir beliau nyantri di sana.

Namun, sosok Kyai Togo tidak berarti tidak pernah belajar saat nyantri di pondok Kyai Hasan Genggong. Dikatakan bahwa beliau selalu belajar saat santri lainnya sedang tidur. Cara beliau belajar sangat berbeda dengan cara belajar santri lainnya. Beliau belajar otodidak (otodidak) dan mengulangi apa yang telah didapat. Beliau belajar di kamarnya (sekarang Kamar C 2) menggunakan bola lampu stongking, satu-satunya cahaya di mushalla yang cahaya menembus sela penghalang anyaman bambu.

Dalam upaya untuk meningkatkan pengetahuannya, Beliau selalu dalam bimbingan KH. Saifuddin, menantunya Kyai Hasan Genggong. Meski tidak secara terbuka mengikuti pengajian di mushalla di bawah bimbingan langsung Kyai Hasan. Beliau selalu mendengarkan pengajian diberikan gurunya dibelakang kamarnya. Hal ini, menurut perawi santri senior di sana, Kyai Togo adalah malingnya sains. Hal ini dilakukan karena begitu hanya untuk melayani. Beliau adalah salah satu dari banyak santri yang menggantikan posisi Kyai Hasan dalam memberikan sebuah studi kepada santri di mushallah saat Kyai Hasan tidak dapat mengajar di mushalla.

Saat disandingkan dengan Kyai-Kyai telah sekaliber KH. Hasyim Asy'ari, KH. Badruzzaman (1990 - 1972), KH. Bisri Mustofa (1915 -1977) dan lainnya, Kyai Togo tergolong tidak menonjol di bidang penulisan. Hal Ini terbukti sedikit sebuah buku yang ditulis nya, bisa di katakan tidak ada hasil melalui sentuhan penanya. Sejauh ditemukan, satu-satunya karya yang dihasilkan oleh Kyai Togo adalah manuskrip yang mengandung zikir. Buku ini bukan asli melainkan salinan dari gurunya.

Namun, bukan berarti dia tidak memiliki pikiran sendiri. Dengan kata lain, tipologi pemikirannya bisa dilihat dari perilakunya selama hidupnya, baik dari kata-katanya maupun tindakannya. Tidak masuk akal, bila tindakan orang saleh tidak didasarkan pada keilmuannya. Misalnya, mengerjakan shalat Idul Fitri saat fajar. Agak mengejutkan kalangan intelektual pesantren saat ada pembicaraan semacam itu. Tapi, bukan berarti itu terlepas dari kerangka spiritual intelektualnya. Para intelektual spiritual ini akan dibahas di bagian ketiga buku ini.

Sementara itu, gaya berpikir Kyai Togo yang bisa ditangkap dari manuskrip yang ada diatas, yang terlihat jelas adalah mutasawwif yang begitu dalam. Dalam manuskrip ini tersirat bahwa pantulannya sufistik. Pertama, ilmu penganggaran. Itulah ilmu yang membahas tuntunan dan visi hati. Kedua, ilmu ketulusan.

Ketiga ilmu ini memiliki hubungan yang erat dan tidak bisa dipisahkan. Menurut penuturan murid-muridnya, perbuatan yang didasarkan pada ketulusan tanpa keyakinan, maka perbuatan itu tidak ada artinya. Begitu juga keyakinan tanpa ketulusan bukan perbuatan tak ternilai.
Selanjutnya menurut Kyai Togo diterjemahkan oleh KH. Mudarris, semua shalat bisa diterima bila berdasarkan hati yang bersih, tulus dan percaya diri.

Mengenai manusia biasa pada umumnya, Kyai Togo adalah manusia biasa dengan segala sifat manusia yang ada di dalam dirinya. Dia makan, minum, menikah, bekerja dan sebagainya. Dia juga merasakan apa yang manusia pernah rasakan, mulai dari masa kanak-kanak sampai akhir hayatnya seperti rasa sakit, sakit dan kesehatan, bahagia dan sedih, menyendiri dan bersosialisasi. Sosok Kyai Alumnus Genggong memulai hidupnya di masyarakat dengan menjalani tabut kehidupan rumah tangga dengan menyunting putri Nyai Yahyana dari Ahmad.

Dikatakan bahwa Nyai Yahyana masih keturunan bujuk reduh dari jalan ibunya. Bujuk reduh memiliki empat putra. Putra pertama, Sajiyah. Putra kedua, Trawih. Anak ketiga, Rufi. Anak ke empat, Sardiyan. Dari sardiyan inilah orang tua Nyai Safinah dan kakek dari yahyana nyai dari jalur ibunda nya.

Ada cerita menarik saat Kyai Togo menikahi Nyai Yahyana. Saat itu Kyai menikahi Nyai Yahyana dengan mas kawin menghatamkan Alquran. Setelah sampai 7 hari menghatamkan Al Quran Kyai mengabarkan kepada mertua yang telah menghatamkan Alquran dalam waktu seminggu. Ayah mertua, ayah Ahmad kurang begitu percaya kepadanya. 

Akhirnya, menyuruhnya menghatamkan lagi. Sesampainya 3 hari kemudian, al-Maghfullah, Kyai Togo menghadap mertua untuk menyatakan telah hatam al-Qur'an. Mertua masih kurang percaya diri pada menantu masa depannya sehingga dia bisa menghatamkan al-Qur'an dalam 3 hari.

Dikatakan lagi Kyai Togo untuk menghatamkan Alquran lagi! Sehari kemudian, Kyai Togo menghadap ayah mertuanya dengan niat yang sama seperti kemarin. Akhirnya, mengahadap mertua untuk meyakinkan dirinya sebagai satu-satunya calon mertua pilihannya. lalu berkehendak sowan Kyai Hasan Genggong.

Sesampainya di tempat tujuan, Kyai Togo dan mertuanya diterima oleh Kyai. Di sela-sela, Kyai Togo disuruh membersihkan dalem (baca: rumah seorang Kyai) dicuci dengan baik. Setelah membersihkan ruangan, Kyai Hasan berkata "setia e toami ambar sari, sudah tongguen bendebasa. (Kamu sekarang saya panggil Togo Ambar Sari, kamu adalah tempat keluhan orang Bondowoso).

Dalam karyanya di tengah masyarakat yang kaya tipologi pertanian, Kyai yang merupakan pengurus sekaligus pendiri PP. Manbaul Ulum, sangat dekat dengan masyarakat, tanpa melihat latar belakang, status sosial, etnisitas, ras, dan suku. Keyakinan yang berbeda juga memiliki kedekatan dengan mereka-mereka dalam hal hubungan antara lain. Terbukti dengan jumlah tamu yang mengunjunginya dengan berbagi berbagai kepentingan.

Ada beberapa faktor yang menjadi motif kedekatan Kyai Togo dengan masyarakat sekitar, diantaranya adalah, Pertama, faktor sains. Tak ayal, alumnus pesantren Genggong Probolinggo ini memiliki segudang pengetahuan. Bisa dilihat dari cerita naratif naratif bahwa sekitar tahun 50-an ada beberapa santri nyolok (madura, santri yang tidak menetap) untuk mempelajari buku-buku klasik seperti bidayah, ta'lim al-muta'allim dan lain-lain.

Dengan segudang pengetahuan yang dimilikinya, ia menjadi rujukan masyarakat sekitar yang notabenis nya agamais,. Terutama berhubungan langsung dengan aktivitas masyarakat
Kedua, faktor ketaqwaan. Menurut KH. Farisi almarhum, Kyai Togo jarang keluar dari tempat tinggalnya. Bahkan menghindar dari hal-hal yang kurang bermanfaat apalagi membicarakan keburukan orang lain. Kebiasaan merenung, taffakkur. Tempat yang disukainya adalah kursi kayu di ruang tamunya. Saat malam tiba, dia memasuki kamarnya. Malam sekitar jam 2 di antar oleh Nawawi, seseorang yang selalu menuntunnya untuk berwudhu '.

Ketiga, faktor kekaromahan. Bukan rahasia di kalangan masyarakat Gerdu Salak tentang banjir yang melanda di desa ini yang disebabkan oleh bendungan jebol. Dikatakan, di musim hujan telah tiba. Ada banjir besar yang menjebol bendungan irigasi yang membanjiri daerah pemukiman penduduk. Saat itu, perasaan itu-menghantui penduduk setempat. Sebelum banjir ke warga desa, Kyai Togo menancapkan tongkat. Segera saja banjir tidak masuk ke wilayah desa. Cerita ini, diturunkan dari generasi ke generasi sekarang.

Di sub ini, akan terungkap seklumit perjalanan Sufistik yang dialami Kyai Togo Ambar Sari, pembahasan ini, edialnya butuh studi refrensi mendalam tentang ini. Setelah menelusuri dengan beberapa sumber dan saksi hidup lalu mengkaji. bisa ditemukan citra spiritual Kyai Togo Ambar Sari. Penulis mengajukan beberapa tahapan yang dia lewati yang terdiri dari Syari'ah, Tarekat, Hakikat dan Marifat. Dari tahap ini, dapat digambarkan sebagai berikut:

Pertama, Syari'ah, dirumuskan oleh definisi As-Sayyid Abu Bakar al-Ma'ruf dengan mengatakan: "Syari'ah adalah perintah yang telah diperintahkan oleh Allah, dan larangan yang telah dilarang oleh-Nya."

Kedua, tarekat. Istilah Tariqa berasal dari kata Ath-Tariq (jalan) menuju Alam atau dengan kata lain pengalaman syari'ah, yang disebut "Al-Jaraa" atau "Al-Amal"
Secara definitif, ada tiga pengertian tentang hal ini. Pertama, Tariqa adalah praktik syari'ah, melakukan ibadah (rajin) dan menjauhkan diri dari apa yang seharusnya tidak dipermudah. Kedua, Tariqa adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai dengan kemampuannya; baik larangan dan perintah nyata, maupun yang tidak (batin). Ketiga, Tariqa adalah menjaui yang haram dan makruh, dengan mempertimbangkan mubah (yang berisi) fadhilat, memenuhi kewajiban dan orang disunat, sesuai dengan kemampuan (eksekusi) di bawah bimbingan seorang syekh dari (shufi ) yang bercita-cita untuk tujuan.

Ketiga, hakikat. Istilah ini pada dasarnya berasal dari kata Al-Haqq, yang berarti kebenaran. Jika ada ilmu Alam, itu berarti ilmu yang digunakan untuk mencari kebenaran. Pengalaman batin yang sering dikenal oleh Shufi, menggambarkan kedekatan hakikat dan ma'rifat, yang merupakan tujuan akhir tasawuf, sementara ma'rifat adalah tujuan akhir.

Keempat, makrifat. Istilah Ma'rifat berasal dari kata "Al-Ma'rifah" yang berarti mengetahui atau mengetahui sesuatu. Dan tali dengan praktik tasawuf, maka istilah ma'rifat disini berarti mengenal Tuhan saat Shufi sampai pada maqam tasawuf.

Tidak semua orang yang mencapai tasawuf bisa mencapai tingkat ma'rifat. Oleh karena itu, Shufi yang telah ma'rifat, memiliki tanda-tanda tertentu, muncul deskripsi Dzuun Nuun Al-Mishriy yang mengatakan; Ada beberapa tanda yang dimiliki oleh Shufi ketika sampai pada tingkat ma'rifat, antara lain, pertama, selalu memancarkan cahaya ma'rifat dalam segala sikap dan tingkah lakunya.

Karena itu, sikap wara 'selalu ada di dalam dirinya. Kedua, tidak ada keputusan mengenai sesuatu berdasarkan fakta sebenarnya, karena hal-hal yang sebenarnya sesuai dengan ajaran tasawuf, belum tentu benar. Ketiga, nikmat Tuhan yang tidak dikehendaki itu untuk dirinya sendiri, karena hal itu dapat terjadi melawan tindakan melanggar hukum.

Pelatihan kejiwaan untuk menuju kepada Tuhan tidak semudah ilmu lainnya, karena perjalanan ke Allah memiliki berbagai tantangan dan rintangan dari jiwa, masyarakat dan syaitan, cobaan yang datang dari raja Salik kepada Allah, dan Kyai Togo berhasil memberhentikan. semua rintangan dan rintangan yang mengganggunya untuk mengenal Tuhan dan berjalan munujunya, zikir, istighfar, salawat merupakan bagian penting dalam perjalanan yang penuh dengan duri dan duri.

Melihat sosok almarhum dari sisi tasawufnya, akan lebih menarik bila akan diungkapkan usahanya akan menjadi tujuan meraih Tuhan. Beliau bersama dengan para sufi lainnya mengalami beberapa tahap dalam perjalanan Sufi-nya. Kurangi menurut otorisasi penulis tahap dibagi menjadi tiga. Pertama, tahap Takhalli. Takhalli berarti membebaskan atau mengosongkan selain Tuhan oleh dunia yang tidak menarik, zuhud dan uzlah.

Menurut anak keempat, KH. Farisi, yang sejak nyantri di sukorejo, abahnya mengalami kehidupan yang berbeda dengan kehidupan masyarakat pada umumnya, yaitu kurang memperhatikan hal-hal yang biasa-biasa saja, berpakaian ala kadarnya,

Kedua, Tahalli. Tahalli berarti menghiasi dirimu dengan beribadah kepada Allah. Dua dari kondisi ini biasanya seseorang masih bisa menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran syariah.

Uraian tahalli al-marhum dapat dilihat dari kesaksian hamba-hambanya, yaitu setiap 2 pagi, abdi dalem mengantar kyai tua ke junde untuk wudhu '. Bisa disimpulkan bahwa aktivitasnya - meski bernyanyi hamba dalem tidak melihat dengan baik aktivitas selanjutnya-taqarrub tingkah laku (lebih dekat) kepada Allah SWT.

Ketiga, Tajalli. Tajalli berarti berinkarnasi dalam pencipta. Menggunakan istilah Syaikh Siti Jenar, Manunggaling Kaulo Gusti. Manusia adalah satu dengan Tuhannya, tidak ada jilbab di antara keduanya. Saat manusia dipersatukan dengan-Nya, maka keberadaan sekelilingnya hilang.
Cukup bagus rasanya mempersatukan pelayan dengan tuhannya. Cerita-cerita berkembang di masyarakat tentang kasih sayang wali yang diasosiasikan dengan persatuan dengan tuhannya. Doa seperti itu keluar dari waktu, karena untuk orang yang hanya di tuhan saja, maka tidak ada hal yang menjadi kendala

H. Kyai Togo dan Manbaul Ulum
Memang benar Kyai yang sederhana ini adalah anak desa. Dia tidak kuliah dan tidak tahu ilmu pendidikan di pusat pendidikan terkenal. Namun perilaku dan tindakannya tercermin sebagai orang yang peduli terhadap pendidikan. Madrasah Manbaul Ulum adalah bukti kepeduliannya terhadap pendidikan.

Prasasti yang terbuat dari marmer berukuran 45 cm X 30 cm bertuliskan tinta emas merupakan deretan bisikan mengenai pembentukan madrasah dengan nama Manbaul Ulum. Madrasah ini menjadi cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Manbaul Ulum yang tertunda pada tahun 1992 sertifikat notaris. Menariknya, pembangunan madrasah yang berukuran 60 m2 ini relatif lebih cepat dan tidak mahal. Jumlah masyarakat sekitar yang membantu pembangunan kompleks madrasah dan bahkan beberapa orang yang menyerahkan sebidang tanah untuk kepentingan pondok ini.

Madrasah diresmikan oleh KHR. Asad Syamsul Arifin secara bertahap mengalami perubahan yang sangat cepat. Anomi masyarakat terhadap madrasah juga sangat antutias. Tahun pertama (1989) dibuka Madrasah Diniyah Sufla. Madrasah ini menempuh pendidikan selama 6 tahun. Di pertengahan tahun ini, tepatnya di tahun 1993, ada santri yang sudah menetap (mukim). Pada tahun 1995 di bidang pendidikan terbuka Madrasah Diniyah Wustha. Pada tahun ini juga putra bungsu Kyai Togo, Drs KH. Salwa Arifin pulang dari yantri di PP. Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo.

Sampai tahun 1997, ketika Kyai Togo menghadap ilahi, kepemimpinan pimpinan pindah ke anaknya, Drs. KH. Salwa Arifin. Melalui sentuhannya, Pondok Pesantren Manbaul Ulum mengalami perkembangan yang sangat pesat. Ini dengan berdirinya lembaga pendidikan. Pada tahun 1998, mendirikan Madrasah Diniyah Ulya. Hingga tahun 2003, Pondok Manbaul Ulum membuka Madrasah Tsanawiyah. Pendidikan berafiliasi dengan kementerian agama.

Pendidikan Madrasah Tsanawiyah Manbaul Ulum adalah perpaduan antara agama dan masyarakat agar siap santri untuk dapat menghadapi globalisasi. Pendidikan di Pondok Pesantren Manbaul Ulum tidak hanya untuk aspek kognitif dan efektif saja. Namun, juga pada aspek psikomotor. Ini untuk melengkapi santri sehingga nantinya mempuyai spesial. Oleh karena itu, pada tahun 2004, Pondok Manbaul Ulum membuka Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan jurusan fashion.

Pendidikan ini menyediakan bagi siswa untuk menjadi manusia siap pakai saat mereka pulang dan tinggal di tengah - tengah masyarakat. Tidak cukup di sana untuk membentengi harta karun Islam di pondok ini. PP. Manbaul Ulum membuka tingkat pendidikan tinggi (baca: Ma'had Aly) dengan kosentrasi Hukum Islam. Pendidikan ini didirikan pada tahun 2006 dan kini telah memasuki generasi kedua (2009-2011). Selain itu juga lembaga kursus, seperti baca kitab cepat (amsilati), bahasa inggris, makeup dan lain-lain.

Begitulah sejarah singkat Kabupaten Bondowoso sekaligus sejarah Ki Ronggo Bondowoso. Dan banyak lagi cerita Bondowoso yang kami sajikan disini mulai Wisata Bondowoso, Budaya Bondowoso, Adat Bondowoso, Pendidikan Bondowoso, Makanan Khas Bondowoso, Berita Bondowoso, Kuliner Bondowoso, Pertanian Bondowoso, Pasar Bondowoso, Harga-harga di Bondowoso, Pemerintah Bondowoso, sejarah Bondowoso, maka dari itu kita harus mengetahui sejarah Bondowoso, asal usul Bondowoso, sejarah rumah adat Bondowoso, sejarah gerbong maut Bondowoso dan siapa yang menjadi pelopor terbentuknya Bondowoso (Pahlawan Bondowoso).

Terima kasih telah mengunjungi website kami, jangan lupa share Peran Ki Ronggo dan Kyai Togo Ambar Sari Dalam Sejarah Kabupaten Bondowoso agar lebih bermanfaat.

Tag :
ki ronggo lawe
ki ronggo warsito
ki ronggo
ki ronggo lawe penipu
ki ronggo bondowoso
sejarah ki ronggo bondowoso
kironggo hk
alamat ki ronggo lawe
ki ronggo lawe ireng
ki ronggo lawe madiun
misteri makam ki ronggo bondowoso
pesugihan ki ronggo lawe
ki ronggo kusumo
ki ronggo lawe togel

Artikel Terkait